Liputan : Latif
Editor : Redaksi
Koranpilar.com. Mojokerto – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang digelar di Wisata Sumbergempong Ketapanrame, Mojokerto, Senin (27/7) pagi. Dalam kesempatan tersebut, ia mengapresiasi para pegiat lingkungan dari berbagai wilayah Indonesia yang hadir dan berkontribusi aktif.
Di hadapan awak media, Menteri Jumhur mengaku tersentuh oleh antusiasme para peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air untuk bertukar pikiran demi kelestarian sungai di Indonesia.
“Saya terharu dengan teman-teman yang sekarang berkumpul dari seluruh Indonesia, alhamdulillah saya diundang, ya, sehingga saya bisa bertukar pikiran dan pasti ada wewenang yang saya miliki, yang saya bisa gunakan untuk mengabulkan apa-apa yang masuk akal dari permintaan atau desakan teman-teman,” ujar Menteri Jumhur.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem perairan dan mengajak semua pihak untuk mengubah pola pikir dalam memperlakukan sungai.
“Jangan kita membelakangi sungai. Itu pesannya dalam pertemuan ini. Jangan kita membelakangi sungai, tapi kita justru harus menjadikan sungai di hadapan kita agar terjaga tetap indah,” sambungnya.
Senada dengan Menteri LH, Wakil Bupati Mojokerto Moch. Rizal Octavian (Mas Wabup) yang turut mendampingi dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa sungai merupakan penopang ketahanan pangan dan sumber air bersih. Ia berharap momentum ini melahirkan komitmen dan inovasi, serta mendorong Pemda dan masyarakat untuk bekerja sama, khususnya dalam mengantisipasi potensi bencana banjir melalui kerja bakti rutin.
“Sungai adalah milik kita bersama, saya berharap masyarakat atau pemerintah desa mempunyai program yang sekiranya simpel saja, jadi mungkin ada kerja bakti membersihkan sungainya yang di sekitar wilayahnya saja, tidak usah jauh-jauh, di desanya masing-masing dibuat ritme atau rutinitas, saya kira itu akan bisa berdampak secara pelan-pelan, karena memang penumpukan dari kecil-kecil bisa menjadi sumbatan di pintu-pintu air yang menjadi sumber bencana di tiap tahunnya,” imbaunya.
Acara ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, yang mewakili Gubernur Jatim. Adhy menyampaikan pandangan Pemprov terkait pemeliharaan sungai dan pentingnya edukasi masalah sampah serta sedimentasi melalui pendekatan pentahelix.
“Kelestarian lingkungan, bagaimana sedimentasi, bagaimana sampah domestik, memang perlu sekali kita mengedukasi masyarakatnya, dan tentu Gubernur sudah mencanangkan bagaimana Nawa Bhakti Satya, namanya Jatim Lestari, di situ termaktub Nawa Bhakti Satya yang ke-9 bagaimana pemerintah mengupayakan, mengkoordinasikan dengan semua stakeholder, pentahelix untuk bersama-sama menjaga,” terang Adhy Karyono.
Konferensi Sungai Indonesia tahun 2026 merupakan program para pemerhati lingkungan hidup yang diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH/BPLH RI), serta didukung oleh lintas sektor seperti Pertamina, My.ID, PGN, dan berbagai badan lainny















