Sabtu, Juni 13, 2026
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
No Result
View All Result
Home Beranda

BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

by Redaksi
Kamis, 21 Mei 2026, 15:16 WIB
A A
BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

paparan Sarya sila Basuki.

Oleh : Sila Basuki // Editor : Redaksi

Koranpilar.com. Surabaya – PENDAHULUAN : Ketika Luka Menjadi Borok.

Orang awam pun memahami : luka yang dibiarkan tanpa perawatan akan bernanah dan menjadi borok akut. Demikian pula “iktibar”-nya bagi Indonesia hari ini. Negara kaya raya ini sedang mengidap problem multidimensi : krisis moral elite, degradasi institusi, ketimpangan ekonomi, pelemahan ideologi, dekadensi akhlak generasi muda, hingga penetrasi oligarki domestik dan kapital global.

Secara yuridis formal, Indonesia adalah negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Namun praktiknya menunjukkan banyak penyimpangan serius dari cita-cita pendiri bangsa. Bangsa ini kaya sumber daya, strategis secara geopolitik, besar populasi, namun belum sepenuhnya berdaulat secara ekonomi, budaya dan kebijakan publik.

Mestinya kita mampu BERDIKARI. Sebagaimana Bung Karno menegaskan :

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri”.

BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR

  1. IDEOLOGI MELEMAH

Pancasila lebih sering menjadi slogan administratif daripada etika hidup bernegara. Ke-Tuhan-an tanpa moralitas, Kemanusiaan tanpa keadilan, Persatuan menjadi polarisasi uang, Kerakyatan dibajak liberalisme, sedangkan Keadilan Sosial cukup “dibayar” dengan bansos dan MBG.

Negara tampak menjalankan simbol Pancasila, tetapi kehilangan RUH Jati Diri Bangsa. Formalitas menjadi topeng kemunafikan.

Baca Juga :  Mojokerto Catat Deflasi di Februari 2026, Harga Daging Ayam di Pasar Kedungmaling Justru Naik jadi Rp 41 Ribu 

“Kerusakan negara bermula ketika kepentingan privat mengalahkan kebajikan publik. Pengusaha jadi Pejabat dan Pejabat jadi Penjahat”.

  1. POLITIK DIKUASAI OLIGARKI

Demokrasi Indonesia menjadi “komoditi” yang makin mahal. Biaya politik tinggi melahirkan politik transaksional, dinasti, kartel partai dan korupsi kebijakan. Rakyat memilih, tetapi arah negara sering ditentukan oleh kekuatan modal.

Demokrasi tanpa pemerataan ekonomi hanya akan memproduksi kecemburuan sosial dan instabilitas. Persoalannya bukan demokrasi itu sendiri, melainkan demokrasi yang dikooptasi modal dan “uang receh” penyumpal suara konstituen.

  1. EKONOMI : KAYA RAYA, TAPI TAK BERDAULAT

Indonesia kaya mineral strategis, energi, agraria, kelautan dan bonus demografi. Namun kekayaan itu belum otomatis menjadi kesejahteraan rakyat.

Indikator borok ekonomi tampak pada : dominasi asing atas aset strategis, ketergantungan impor, ketimpangan wilayah produktif, serta lemahnya industrialisasi nasional.

Pasal 33 UUD 1945 menegaskan bahwa cabang produksi penting harus dikuasai negara demi kemakmuran rakyat. Namun praktiknya, nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati segelintir elite dan jejaring kapital global. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA (Pancasila, Sila ke-5) masih terasa utopis.

  1. EXPLORASI OLIGARKI DAN ELITE GLOBAL
Baca Juga :  Peringati HUT RI Ke-79, Pj. Bupati: Lanjutkan Perjuangan Para Founding Father

Kolonialisme modern tidak lagi berbentuk penjajahan fisik. Kini hadir melalui kontrol investasi strategis, utang negara, dominasi teknologi, penetrasi budaya konsumtif, hingga perusakan mental generasi muda.

Bukan berarti seluruh investasi asing buruk. Masalah muncul ketika negara kehilangan posisi tawar dan gagal memastikan manfaat nasional bagi rakyat.

Oligarki bekerja dengan mengubah demokrasi menjadi arena distribusi konsesi ekonomi. Demokrasi transaksional inilah yang perlahan menggerogoti kedaulatan bangsa.

Frasa Sederhananya :

“Indonesia jangan hanya menjadi pasar besar, lumbung bahan mentah, atau sapi perah peradaban bangsa lain”.

  1. HUKUM LEMAH, KEADILAN TERSANDERA

Hukum masih terasa :

“Tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Fenomena “No Viral No Justice” menjadi bukti lemahnya kepastian hukum. Banyak kasus baru diproses setelah viral di media sosial.

Berbagai kasus korupsi besar pun menunjukkan ketimpangan perlakuan hukum. Sementara rakyat kecil cepat diproses, mega korupsi bernilai triliunan rupiah sering berjalan lambat dan penuh celah.

Ketidakpastian hukum lahir dari korupsi struktural, intervensi kekuasaan dan lemahnya akses keadilan masyarakat bawah. Dampaknya bukan hanya merusak kepercayaan rakyat, tetapi juga melemahkan legitimasi negara.

Baca Juga : 

DIAGNOSIS : AKAR PENYAKIT

  1. Sistem Oligarki

Kekuasaan politik, ekonomi, hukum dan informasi terkonsentrasi pada segelintir elite yang ditopang oligarki lokal maupun global. Bila oligarki berhasil mengooptasi kebijakan negara, maka yang rusak bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh tatanan NKRI.

Prabowo pernah mengingatkan :

“Mereka ramalkan kita ini bubar tahun 2030”.

  1. Krisis Keteladanan

Elite pejabat gagal menjadi role model etika publik. Anak muda lebih banyak menyaksikan perilaku koruptif daripada keteladanan patriotik dan nasionalis.

Fitnah harta, tahta dan syahwat telah mengalahkan kepentingan rakyat dan negara.

  1. Lemahnya Institusi

Institusi negara kalah oleh patronase personal dan kepentingan dinastik. Dengan menempatkan pejabat yang loyal pada oligarki, maka lembaga negara yang seharusnya kuat justru berubah menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.

  1. Krisis Moral-Spiritual

Religiusitas simbolik lebih dominan daripada etika substantif. Agama sering dijadikan topeng moral, sementara korupsi dan penyimpangan tetap berlangsung.

  1. Hilangnya Visi Peradaban

Bangsa ini terlalu sibuk pada kontestasi kekuasaan lima tahunan hingga melupakan pembangunan peradaban. Pendidikan mengejar angka, budaya mengejar viralitas, sedangkan karakter dan budi pekerti makin tersisih (bersambung…).

Share2SendTweet1
Previous Post

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tulungagung, Sahkan 5 Ranperda. Plt Bupati Ahmad Baharudin : Mendorong Partisipasi Publik dan Penguatan Daerah

Next Post

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

Related Posts

Kakanwil BPN Jatim Serahkan Hewan Qurban
Surabaya

Kakanwil BPN Jatim Serahkan Hewan Qurban

Kamis, 28 Mei 2026, 06:00 WIB
Elementor #3894
Beranda

Plt Bupati Tulungagung Mengucapkan “Selamat Memperingati Idhul Adha”

Selasa, 26 Mei 2026, 18:26 WIB
TERAPI Bagi NKRI : JALAN PEMULIHAN BANGSA DAN NEGARA (2)
Beranda

TERAPI Bagi NKRI : JALAN PEMULIHAN BANGSA DAN NEGARA (2)

Jumat, 22 Mei 2026, 14:56 WIB
Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi
Surabaya

Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi

Senin, 18 Mei 2026, 10:32 WIB
Transformasi Digital Birokrasi: Teknologi Saja Tidak Cukup
Surabaya

Transformasi Digital Birokrasi: Teknologi Saja Tidak Cukup

Jumat, 8 Mei 2026, 18:25 WIB
PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN; HASIL BUMI YANG MELIMPAH STOK PANGAN AMAN
Beranda

PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN; HASIL BUMI YANG MELIMPAH STOK PANGAN AMAN

Selasa, 28 April 2026, 10:55 WIB
Next Post
KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

Recommended

Sekolah Rakyat di Mojokerto Dapat Bansos Sambut HUT RI ke-80

Kolaborasi Koni dan Pemkab Mojokerto Jaring Pevoli, Gelar Even Bupati Mojokerto Cup 2025

Rabu, 13 Agustus 2025, 13:19 WIB
Pj. Bupati Tulungagung Monitoring Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi 2024

Pj. Bupati Tulungagung Monitoring Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi 2024

Jumat, 2 Agustus 2024, 20:30 WIB

Don't miss it

Job Fair Tulungagung 2026, Hadirkan 47 Perusahaan, Buka 3.750 Lowongan Pencari Kerja
Tulungagung

Job Fair Tulungagung 2026, Hadirkan 47 Perusahaan, Buka 3.750 Lowongan Pencari Kerja

Rabu, 10 Juni 2026, 16:29 WIB
Parongan Pengusir Nyamuk, Rumah, Kandang dan 6 Ekor Kambing Ikut Terbakar di Sendang, Polisi Imbau Warga Lebih Waspada
Tulungagung

Parongan Pengusir Nyamuk, Rumah, Kandang dan 6 Ekor Kambing Ikut Terbakar di Sendang, Polisi Imbau Warga Lebih Waspada

Rabu, 10 Juni 2026, 13:01 WIB
TIDAK MEMENUHI STANDAR DAN MELAKUKAN MONOPOLI SUPPLIER, 18 SPPG DI TULUNGAGUNG DITUTUP SEMENTARA
Tulungagung

TIDAK MEMENUHI STANDAR DAN MELAKUKAN MONOPOLI SUPPLIER, 18 SPPG DI TULUNGAGUNG DITUTUP SEMENTARA

Rabu, 10 Juni 2026, 07:00 WIB
Ratusan Massa GEMPAR Geruduk DPRD Tulungagung, Desak Pemerintahan Bersih Dari Korupsi
Tulungagung

Ratusan Massa GEMPAR Geruduk DPRD Tulungagung, Desak Pemerintahan Bersih Dari Korupsi

Rabu, 10 Juni 2026, 06:30 WIB
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Mengajak, Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila Agar Cita-Cita Luhur Pendiri Bangsa Dapat Terwujud
Tulungagung

Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin Mengajak, Mengamalkan Nilai-Nilai Pancasila Agar Cita-Cita Luhur Pendiri Bangsa Dapat Terwujud

Selasa, 2 Juni 2026, 18:44 WIB
Erma Susanti : DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung Berharap Nilai-Nilai Pancasila Serta Pemikiran Bung Karno Terus Hidup
Tulungagung

Erma Susanti : DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung Berharap Nilai-Nilai Pancasila Serta Pemikiran Bung Karno Terus Hidup

Selasa, 2 Juni 2026, 17:30 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kode Etik Jurnalistik

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved