Penulis : Tim
Editor : Redaksi
Koranpilar.com, Tulungagung – Pada sore harinya sajen diundurkan untuk dikendurikan. Di samping itu pada tiap-tiap tahun, bertepatan pada hari Jumat antara tanggal 11 sampai 20 Suro selalu diadakan siraman.
Untuk upacara siraman ini harus disediakan sajen-sajen seperti berikut.
1. Panggang ayam tulak, ayam walik, ayam putih mulus, ayam hitam mulus, ayam lurik sekul dan lain-lain (7 macam).
2. Bermacam-macam polo kependem (knolgewasen) antara lain kacang brol, ubi-ubian, kentang hitam, kentang putih, ketela rambat, ketela pohon, dan lain-lain.
3. Jenang sengkolo, bubur suran lengkap dengan lauk pauknya sebagaimana biasanya untuk selamatan suran.
4. Pisang raja ayu.
5. Air dari tujuh sumber dan air laut yang digunakan untuk siraman pertama.
6. Tebu dan janur.
7. Macam-macam ikan sungai.
8. Macam-macam jajanan pasar.
9. Daging lembu 27 macam (27 potong) Kira-kira jam 9.30 Jumat pagi, setelah pusaka tersebut dikeluarkan dari kamar pusaka, maka diiringi dengan gamelan monggang yang terus menerus sampai akhir siraman dan sampai pusaka tersebut dikembalikan ke kamar pusaka.

Di samping itu diadakan pembacaan tahlil oleh para santri yang dilanjutkan dengan kenduri. Sedangkan yang bertugas melaksanakan siraman tersebut adalah Kyai Emban yang telah turun temurun.
Sebagi penutup rangkaian upacara, pada malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk Kanjeng Kyai Upas adalah nama pusaka yang berbentuk tombak yang panjang bilahnya 35 cm, dan panjang landheyan atau tangkainya 5 meter.
Pada pangkal bilahnya ada tulisan berwarna emas dari bahan emas dengan huruf Arab yang berbunyi, Allah?. Kanjeng Kyai Upas diberi lurup atau ditutup berlapis-lapis dengan kain cindhe.
Menurut legenda dan kepercayaan masyarakat pendukungnya, dinyatakan bahwa bilah Kanjeng Kyai Upas berasal dari lidah seekor ular naga dan landheyannya berasal dari badan seekor ular naga yang bernama Baru Klinthing (BERSAMBUNG….).











