Kamis, Mei 21, 2026
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
No Result
View All Result
Home Beranda

BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

by Redaksi
Kamis, 21 Mei 2026, 15:16 WIB
A A
BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

paparan Sarya sila Basuki.

Oleh : Sila Basuki // Editor : Redaksi

Koranpilar.com. Surabaya – PENDAHULUAN : Ketika Luka Menjadi Borok.

Orang awam pun memahami : luka yang dibiarkan tanpa perawatan akan bernanah dan menjadi borok akut. Demikian pula “iktibar”-nya bagi Indonesia hari ini. Negara kaya raya ini sedang mengidap problem multidimensi : krisis moral elite, degradasi institusi, ketimpangan ekonomi, pelemahan ideologi, dekadensi akhlak generasi muda, hingga penetrasi oligarki domestik dan kapital global.

Secara yuridis formal, Indonesia adalah negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Namun praktiknya menunjukkan banyak penyimpangan serius dari cita-cita pendiri bangsa. Bangsa ini kaya sumber daya, strategis secara geopolitik, besar populasi, namun belum sepenuhnya berdaulat secara ekonomi, budaya dan kebijakan publik.

Mestinya kita mampu BERDIKARI. Sebagaimana Bung Karno menegaskan :

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri”.

BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR

  1. IDEOLOGI MELEMAH

Pancasila lebih sering menjadi slogan administratif daripada etika hidup bernegara. Ke-Tuhan-an tanpa moralitas, Kemanusiaan tanpa keadilan, Persatuan menjadi polarisasi uang, Kerakyatan dibajak liberalisme, sedangkan Keadilan Sosial cukup “dibayar” dengan bansos dan MBG.

Negara tampak menjalankan simbol Pancasila, tetapi kehilangan RUH Jati Diri Bangsa. Formalitas menjadi topeng kemunafikan.

Baca Juga :  Puluhan Mahasiswa Demo Di DPRD Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Janji Buka Data BOS dan Beasiswa

“Kerusakan negara bermula ketika kepentingan privat mengalahkan kebajikan publik. Pengusaha jadi Pejabat dan Pejabat jadi Penjahat”.

  1. POLITIK DIKUASAI OLIGARKI

Demokrasi Indonesia menjadi “komoditi” yang makin mahal. Biaya politik tinggi melahirkan politik transaksional, dinasti, kartel partai dan korupsi kebijakan. Rakyat memilih, tetapi arah negara sering ditentukan oleh kekuatan modal.

Demokrasi tanpa pemerataan ekonomi hanya akan memproduksi kecemburuan sosial dan instabilitas. Persoalannya bukan demokrasi itu sendiri, melainkan demokrasi yang dikooptasi modal dan “uang receh” penyumpal suara konstituen.

  1. EKONOMI : KAYA RAYA, TAPI TAK BERDAULAT

Indonesia kaya mineral strategis, energi, agraria, kelautan dan bonus demografi. Namun kekayaan itu belum otomatis menjadi kesejahteraan rakyat.

Indikator borok ekonomi tampak pada : dominasi asing atas aset strategis, ketergantungan impor, ketimpangan wilayah produktif, serta lemahnya industrialisasi nasional.

Pasal 33 UUD 1945 menegaskan bahwa cabang produksi penting harus dikuasai negara demi kemakmuran rakyat. Namun praktiknya, nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati segelintir elite dan jejaring kapital global. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA (Pancasila, Sila ke-5) masih terasa utopis.

  1. EXPLORASI OLIGARKI DAN ELITE GLOBAL
Baca Juga :  Program Tukar Tabung Subsidi Ke Non Subsidi Kabupaten Tulungagung Jalan Ditempat

Kolonialisme modern tidak lagi berbentuk penjajahan fisik. Kini hadir melalui kontrol investasi strategis, utang negara, dominasi teknologi, penetrasi budaya konsumtif, hingga perusakan mental generasi muda.

Bukan berarti seluruh investasi asing buruk. Masalah muncul ketika negara kehilangan posisi tawar dan gagal memastikan manfaat nasional bagi rakyat.

Oligarki bekerja dengan mengubah demokrasi menjadi arena distribusi konsesi ekonomi. Demokrasi transaksional inilah yang perlahan menggerogoti kedaulatan bangsa.

Frasa Sederhananya :

“Indonesia jangan hanya menjadi pasar besar, lumbung bahan mentah, atau sapi perah peradaban bangsa lain”.

  1. HUKUM LEMAH, KEADILAN TERSANDERA

Hukum masih terasa :

“Tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Fenomena “No Viral No Justice” menjadi bukti lemahnya kepastian hukum. Banyak kasus baru diproses setelah viral di media sosial.

Berbagai kasus korupsi besar pun menunjukkan ketimpangan perlakuan hukum. Sementara rakyat kecil cepat diproses, mega korupsi bernilai triliunan rupiah sering berjalan lambat dan penuh celah.

Ketidakpastian hukum lahir dari korupsi struktural, intervensi kekuasaan dan lemahnya akses keadilan masyarakat bawah. Dampaknya bukan hanya merusak kepercayaan rakyat, tetapi juga melemahkan legitimasi negara.

Baca Juga :  Pemerintah Kabupaten Tulungagung Luncurkan Si TRUST

DIAGNOSIS : AKAR PENYAKIT

  1. Sistem Oligarki

Kekuasaan politik, ekonomi, hukum dan informasi terkonsentrasi pada segelintir elite yang ditopang oligarki lokal maupun global. Bila oligarki berhasil mengooptasi kebijakan negara, maka yang rusak bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh tatanan NKRI.

Prabowo pernah mengingatkan :

“Mereka ramalkan kita ini bubar tahun 2030”.

  1. Krisis Keteladanan

Elite pejabat gagal menjadi role model etika publik. Anak muda lebih banyak menyaksikan perilaku koruptif daripada keteladanan patriotik dan nasionalis.

Fitnah harta, tahta dan syahwat telah mengalahkan kepentingan rakyat dan negara.

  1. Lemahnya Institusi

Institusi negara kalah oleh patronase personal dan kepentingan dinastik. Dengan menempatkan pejabat yang loyal pada oligarki, maka lembaga negara yang seharusnya kuat justru berubah menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.

  1. Krisis Moral-Spiritual

Religiusitas simbolik lebih dominan daripada etika substantif. Agama sering dijadikan topeng moral, sementara korupsi dan penyimpangan tetap berlangsung.

  1. Hilangnya Visi Peradaban

Bangsa ini terlalu sibuk pada kontestasi kekuasaan lima tahunan hingga melupakan pembangunan peradaban. Pendidikan mengejar angka, budaya mengejar viralitas, sedangkan karakter dan budi pekerti makin tersisih (bersambung…).

ShareSendTweet
Previous Post

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tulungagung, Sahkan 5 Ranperda. Plt Bupati Ahmad Baharudin : Mendorong Partisipasi Publik dan Penguatan Daerah

Next Post

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

Related Posts

Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi
Surabaya

Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi

Senin, 18 Mei 2026, 10:32 WIB
Transformasi Digital Birokrasi: Teknologi Saja Tidak Cukup
Surabaya

Transformasi Digital Birokrasi: Teknologi Saja Tidak Cukup

Jumat, 8 Mei 2026, 18:25 WIB
PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN; HASIL BUMI YANG MELIMPAH STOK PANGAN AMAN
Beranda

PLT BUPATI AHMAD BAHARUDIN; HASIL BUMI YANG MELIMPAH STOK PANGAN AMAN

Selasa, 28 April 2026, 10:55 WIB
Tradisi Ulur-Ulur Telaga Buret, Inspirasi Bagi Generasi Mendatang Untuk Menjaga Alam Dan Kearifan Lokal
Beranda

Tradisi Ulur-Ulur Telaga Buret, Inspirasi Bagi Generasi Mendatang Untuk Menjaga Alam Dan Kearifan Lokal

Jumat, 24 April 2026, 18:54 WIB
RDP DPRD Dengan GTKN, SiLPA Sementara Terungkap Rp 51 Miliar
Beranda

RDP DPRD Dengan GTKN, SiLPA Sementara Terungkap Rp 51 Miliar

Sabtu, 14 Februari 2026, 15:38 WIB
Mojokerto Catat Deflasi di Februari 2026, Harga Daging Ayam di Pasar Kedungmaling Justru Naik jadi Rp 41 Ribu 
Beranda

Mojokerto Catat Deflasi di Februari 2026, Harga Daging Ayam di Pasar Kedungmaling Justru Naik jadi Rp 41 Ribu 

Rabu, 11 Februari 2026, 15:09 WIB
Next Post
KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

Recommended

69 PPPK Dilantik Pemkab Mojokerto

69 PPPK Dilantik Pemkab Mojokerto

Rabu, 17 September 2025, 06:06 WIB
Puluhan Ribu Ayam Terpanggang, Kebakaran Diduga dari Korsleting Pemanas

Puluhan Ribu Ayam Terpanggang, Kebakaran Diduga dari Korsleting Pemanas

Senin, 22 Juli 2024, 17:35 WIB

Don't miss it

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT
Mojokerto

KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MOJOKERTO, KOORDINASI LANGKAH STRATEGIS ANTAR PIHAK TERKAIT

Kamis, 21 Mei 2026, 16:22 WIB
BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)
Beranda

BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

Kamis, 21 Mei 2026, 15:16 WIB
Konsep Otomatis
Tulungagung

Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Tulungagung, Sahkan 5 Ranperda. Plt Bupati Ahmad Baharudin : Mendorong Partisipasi Publik dan Penguatan Daerah

Kamis, 21 Mei 2026, 06:34 WIB
Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi
Surabaya

Desak Indonesia Keluar dari “Board of Peace” 36 Elemen Masyarakat Surabaya Gelar Aksi di Depan Grahadi

Senin, 18 Mei 2026, 10:32 WIB
LAGA PERSAHABATAN, PEMKAB TULUNGAGUNG FC VS PEMKAB TRENGGALEK FC
Tulungagung

LAGA PERSAHABATAN, PEMKAB TULUNGAGUNG FC VS PEMKAB TRENGGALEK FC

Senin, 18 Mei 2026, 07:27 WIB
Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin Melepas Pemberangkatan Calon Haji Tulungagung.
Tulungagung

Plt Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin Melepas Pemberangkatan Calon Haji Tulungagung.

Minggu, 17 Mei 2026, 20:13 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kode Etik Jurnalistik

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved