Beranda Hukum dan Kriminal

Polres Tulungagung Bongkar Jaringan Peredaran Bahan Peledak Ilegal

91
Konferensi pers pengungkapan kasus peredaran bahan peledak ilegal di Kabupaten Tulungagung.

koranpilar.com, Tulungagung – Kepolisian Resor (Polres) Tulungagung bersama jajaran polsek berhasil mengungkap empat kasus peredaran bahan peledak ilegal dalam Operasi Pekat Semeru 2025. Dalam konferensi pers pada Kamis (6/3), Kapolres Tulungagung AKBP Taat Resdi mengungkap bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari operasi cipta kondisi yang dilakukan di berbagai titik di wilayah Tulungagung.

“Kami mengamankan lima tersangka, tiga di antaranya masih di bawah umur. Mereka ditangkap di lokasi berbeda dengan modus membeli bahan secara daring, lalu merakitnya sendiri menjadi bubuk mesiu dan petasan,” ungkap AKBP Taat Resdi.

Kapolres menegaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan patroli dan razia untuk mencegah peredaran bahan peledak ilegal. “Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan aktivitas mencurigakan terkait bahan peledak demi menjaga keamanan bersama,” tegasnya.

Sebagian barang bukti telah dimusnahkan sesuai prosedur, terutama yang berisiko tinggi. Kapolres menjelaskan bahwa barang bukti berbahaya dapat langsung dimusnahkan tanpa menunggu putusan sidang.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Ryo Pradana, merinci kronologi pengungkapan keempat kasus ini:

Baca Juga  Latihan Hari Keenam Bu Endang: Siap Tanding, Siap Menginspirasi!

Kasus pertama terjadi di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, pada 17 Februari 2025. Polisi menangkap MCD (19) dengan barang bukti dua kilogram bubuk mesiu yang hendak dijual secara ilegal.

Kasus kedua terungkap pada 27 Februari 2025 di Desa Panggungrejo, Kecamatan Kauman. Dua tersangka, BKR (19) dan ABK (17), ditangkap dengan barang bukti lima ons bubuk mesiu yang dikemas dalam kardus cokelat.

Kasus ketiga masih pada 27 Februari 2025. Polisi menangkap MFF (15) di teras sebuah madrasah di Kecamatan Besuki. Dari lokasi ini, petugas mengamankan tiga kilogram bubuk mesiu, lebih dari 200 petasan setengah jadi, serta berbagai bahan baku pembuatan mercon.

Kasus terakhir terjadi di Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, pada 5 Maret 2025. Polisi menangkap MIR (17) yang kedapatan membawa berbagai jenis petasan siap ledak dalam berbagai ukuran.

 

AKP Ryo Pradana menjelaskan bahwa para tersangka mendapatkan bahan-bahan pembuat mesiu dengan membeli secara daring melalui platform belanja resmi. Mereka kemudian meracik sendiri bubuk peledak tersebut. Mirisnya, salah satu tersangka bahkan menyimpan bahan peledak di lingkungan sekolah.

Baca Juga  Korupsi APBDes dan PADes, Kades Batangsaren dan Bendahara Resmi Jadi Tersangka dengan Kerugian Rp 787 Juta

“Pihak keluarga mengaku tidak mengetahui aktivitas para tersangka. Kami mengimbau para orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam kegiatan ilegal yang berbahaya,” tambahnya.

Dari keempat kasus ini, polisi menyita puluhan kilogram bahan peledak, ratusan petasan siap ledak, serta alat-alat perakitan. Para tersangka dijerat dengan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.