Beranda Beranda

Mojokerto Catat Deflasi di Februari 2026, Harga Daging Ayam di Pasar Kedungmaling Justru Naik jadi Rp 41 Ribu 

2

Foto, Lapak Penjualan daging ayam

Liputan : Latif. Editor : Redaksi.

Koran Pilar, Mojokerto – Jawa Timur. Kontradiksi tajam terjadi antara data statistik pemerintah dengan kondisi riil di lapangan. Kabupaten Mojokerto secara resmi mencatatkan deflasi sebesar 0,40 persen pada Januari 2026.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengklaim bahwa tren deflasi ini dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan yang membuat daya beli masyarakat seharusnya terjaga.

Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan jeritan warga di tingkat pasar tradisional.

Pantauan di Pasar Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, menunjukkan bahwa komoditas daging ayam justru mengalami lonjakan harga yang signifikan. Per hari ini, Rabu (11/2), harga daging ayam potong menyentuh angka Rp41.000 per kilogram.

Kondisi ini memicu kebingungan di kalangan konsumen, mengingat narasi pemerintah pusat maupun daerah sedang menggembar-gemborkan terjadinya penurunan harga barang dan jasa secara umum.

Ismi, salah satu pedagang daging ayam di Pasar Kedungmaling, mengakui bahwa kenaikan harga ini terjadi secara bertahap dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga  ODGJ Yang Meresahkan di Desa Suruhan Kidul di amankan Polsek

Menurutnya, meski pemerintah menyebut ada deflasi pada sektor pangan, kenyataannya pasokan atau harga modal dari tingkat distributor tidak menunjukkan penurunan yang selaras dengan angka statistik yang dirilis BPS.

“Katanya harga-harga turun atau deflasi, tapi kenyataannya daging ayam hari ini malah naik sampai Rp41 ribu per kilo. Pembeli banyak yang mengeluh karena harganya jauh dari kata normal. Kami pedagang jadi serba salah kalau mau menawarkan ke pelanggan,” ungkap Ismi saat ditemui di lapaknya, Rabu (11/2).

Lonjakan harga ini membuat volume penjualan para pedagang di Pasar Kedungmaling menurun.

Konsumen yang biasanya membeli dalam hitungan kilogram, kini terpaksa mengurangi belanjaan mereka menjadi setengah kilogram atau beralih ke sumber protein lain yang lebih terjangkau.

Hal ini menunjukkan bahwa angka deflasi 0,40 persen belum dirasakan dampaknya secara merata, terutama pada komoditas vital seperti daging ayam.

Situasi di Pasar Kedungmaling ini menjadi evaluasi penting bagi Pemkab Mojokerto untuk menyelaraskan data dengan intervensi pasar yang lebih akurat.

Baca Juga  Studi 2025: Literasi Digital Tinggi Tak Jamin Mental Anak Sehat, 40% Pelajar SMP Terpaku Layar

Warga berharap pemerintah tidak hanya terpaku pada angka di atas kertas, tetapi juga aktif memantau rantai distribusi yang menyebabkan harga pangan tertentu tetap meroket di tengah kondisi ekonomi yang diklaim sedang mengalami deflasi.