Liputan : Gultom
Editor : Redaksi
Oleh: Ir. Bagus Budi Hermanto, MM.
Koranpilar.com. Surabaya – Ada sebuah pemandangan sederhana yang mungkin bagi sebagian orang tidak berarti apa-apa.
Beberapa orang duduk di sebuah warung. Mereka makan, berbincang, kemudian kembali menjalani aktivitas masing-masing. Tidak ada pembicaraan tentang pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, geopolitik, bonus demografi, transformasi digital, perubahan iklim, hilirisasi, atau masa depan Indonesia.
Mereka hanya makan.
Tetapi justru di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah mereka benar-benar tidak peduli terhadap masa depan bangsa? Ataukah kehidupan telah membuat mereka terlalu sibuk memikirkan hari ini?
Pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menilai mereka sebagai masyarakat yang apatis.
Rakyat yang sibuk bertahan hidup
Bagi sebagian masyarakat, kehidupan bukanlah permainan strategi jangka panjang.
Mereka tidak sedang menghitung bagaimana Indonesia menjadi negara maju pada 2045.
Mereka sedang menghitung:
“Besok saya dapat uang dari mana?”
Pedagang memikirkan dagangannya laku atau tidak.
Buruh memikirkan apakah besok masih mendapat pekerjaan.
Pengemudi memikirkan berapa order yang bisa diperoleh.
Petani memikirkan harga hasil panennya.
Nelayan memikirkan apakah hari ini bisa membawa pulang hasil tangkapan.
Orang tua memikirkan uang sekolah anak.
Keluarga memikirkan biaya makan, listrik, transportasi dan kebutuhan rumah tangga.
Dalam kondisi seperti itu, berbicara tentang visi Indonesia 20 tahun mendatang kadang terasa seperti kemewahan.
Bukan karena mereka tidak mencintai Indonesia.
Mereka hanya sedang berjuang agar tetap bisa hidup di Indonesia.
Di sinilah persoalan bangsa menjadi serius
Sebuah masyarakat akan sulit membangun masa depan apabila sebagian besar energinya habis untuk menyelesaikan persoalan hari ini.
Ketika kebutuhan dasar belum aman, maka orientasi kehidupan akan berubah menjadi:
Survive first, think later.
Bertahan hidup dahulu.
Masa depan dipikirkan nanti.
Dan kalau kondisi ini berlangsung terlalu lama, kita menghadapi persoalan yang lebih besar:
pendeknya horizon berpikir masyarakat.
Orang tidak lagi bertanya:
“Apa yang terbaik untuk lima tahun ke depan?”
Tetapi:
“Apa yang bisa menghasilkan uang minggu ini?”
Bahkan dalam kondisi yang lebih ekstrem:
“Yang penting ada uang. Bagaimana caranya, itu urusan belakangan.”
Di sinilah kita harus berhati-hati.

Karena ketika kebutuhan ekonomi bertemu dengan lemahnya sistem nilai, masyarakat dapat terdorong menuju pragmatisme ekstrem.
Ketika uang menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan
Uang memang penting.
Tidak mungkin kita membangun keluarga, pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang layak tanpa penghasilan.
Tetapi persoalannya muncul ketika uang menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.
Akhirnya muncul logika:
“Yang penting menghasilkan.”
Bukan:
“Yang penting menghasilkan dengan cara yang benar.”
Perbedaannya sangat fundamental.
Masyarakat membutuhkan pekerjaan.
Tetapi masyarakat juga membutuhkan pekerjaan yang bermartabat.
Mereka membutuhkan kesempatan memperoleh penghasilan melalui aktivitas yang:
- legal,
- produktif,
- sehat,
- berkelanjutan,
- tidak merugikan orang lain,
- dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Sebab kalau sistem ekonomi secara tidak langsung mengajarkan bahwa kejujuran kalah menguntungkan dibanding manipulasi, maka kita tidak boleh hanya menyalahkan individu.
Kita harus berani mengevaluasi sistem yang membentuk perilaku tersebut.
Jangan salahkan rakyat—perbaiki ekosistemnya
Ini bagian yang sering kita lupakan.
Kita mudah mengatakan:
“Masyarakat sekarang materialistis.”
“Orang hanya mengejar uang.”
“Rakyat tidak peduli negara.”
Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah:
Apakah negara telah memberikan cukup ruang bagi rakyat untuk berpikir lebih jauh daripada sekadar mencari nafkah?
Apakah pendidikan telah memberikan kemampuan merencanakan kehidupan?
Apakah pekerjaan memberikan penghasilan yang cukup?
Apakah usaha kecil mempunyai akses modal dan pasar?
Apakah petani mendapatkan nilai ekonomi yang adil?
Apakah pekerja memiliki kepastian?
Apakah masyarakat memperoleh pelayanan publik yang membuat hidup mereka lebih mudah?
Apakah hukum memberikan rasa keadilan?
Dan yang paling penting:
Apakah rakyat masih mempunyai alasan untuk percaya bahwa masa depan akan lebih baik?
Karena harapan adalah modal pembangunan yang sering tidak terlihat dalam statistik.
Negara tidak cukup hanya membangun infrastruktur
Jalan dibangun.
Bandara dibangun.
Pelabuhan dibangun.
Kawasan industri dibangun.
Teknologi berkembang.
Digitalisasi berlangsung.
Tetapi pembangunan yang sesungguhnya harus menjawab pertanyaan yang lebih sederhana:
Apakah kehidupan manusia menjadi lebih baik?
Apakah pendapatan meningkat?
Apakah pekerjaan semakin produktif?
Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik?
Apakah keluarga semakin aman?
Apakah masyarakat semakin percaya kepada institusi?
Apakah orang semakin berani membuka usaha?
Apakah generasi muda semakin berani merencanakan masa depan?
Karena pada akhirnya, pembangunan bukan tentang beton. Pembangunan adalah tentang manusia.
Dari “asal dapat uang” menjadi “menciptakan nilai”
Indonesia membutuhkan perubahan paradigma.
Kita harus membawa masyarakat dari:
mencari uang → memperoleh penghasilan → membangun aset → menciptakan nilai → menciptakan pekerjaan → memberi manfaat.
Itulah transformasi ekonomi yang sesungguhnya.
Seorang pedagang warung jangan selamanya hanya menjadi pedagang warung.
Ia harus mempunyai kesempatan untuk berkembang menjadi:
usaha mikro → usaha kecil → usaha menengah → usaha yang menciptakan lapangan kerja.
Petani jangan selamanya hanya menjadi produsen bahan mentah.
Mereka harus mempunyai kesempatan menjadi bagian dari:
produksi → pengolahan → branding → pemasaran → ekspor.
Anak muda jangan hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja.
Mereka harus dipersiapkan menjadi:
problem solver, entrepreneur, innovator dan job creator.
Inilah yang disebut menaikkan kelas masyarakat.
Korupsi juga memperpendek masa depan bangsa
Ada persoalan lain yang tidak boleh kita abaikan: korupsi.
Ketika uang publik dicuri, yang hilang bukan hanya sejumlah rupiah.
Yang dicuri adalah:
sekolah yang seharusnya dibangun,
jalan yang seharusnya diperbaiki,
pelayanan kesehatan yang seharusnya diberikan,
kesempatan kerja yang seharusnya tercipta,
dan masa depan yang seharusnya dimiliki masyarakat.
Korupsi pada akhirnya membuat masyarakat semakin sulit naik kelas.
Karena itu, korupsi bukan sekadar kejahatan terhadap keuangan negara.
Korupsi adalah pencurian terhadap masa depan.
Dan semakin besar korupsi, semakin besar pula kemungkinan masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa bekerja keras dan hidup jujur akan membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik.
Kita membutuhkan masyarakat yang berani merencanakan masa depan
Indonesia tidak akan menjadi negara maju hanya karena pemerintah mempunyai visi.
Visi negara harus menjadi visi masyarakat.
Petani harus berani merencanakan masa depan kebunnya.
Pengusaha harus berani merencanakan ekspansi usahanya.
Orang tua harus berani merencanakan pendidikan anaknya.
Anak muda harus berani merencanakan kariernya.
Desa harus berani merencanakan ekonominya.
Pemerintah daerah harus berani merencanakan transformasi wilayahnya.
Dan pemerintah pusat harus menciptakan ekosistem yang memungkinkan semua itu terjadi.
Dengan demikian, visi Indonesia tidak berhenti di ruang sidang, kantor pemerintahan atau dokumen perencanaan.
Visi itu hidup di meja makan keluarga Indonesia.
Dari warung sederhana menuju Indonesia Emas

Kembali kepada foto sederhana tadi.
Orang-orang di dalam warung mungkin tidak sedang membicarakan Indonesia Emas 2045.
Tetapi mereka adalah bagian dari Indonesia yang akan menentukan apakah Indonesia Emas benar-benar terwujud atau hanya menjadi slogan.
Mereka adalah:
konsumen, pekerja, pedagang, orang tua, pemilih, pembayar pajak, pelaku UMKM, dan warga negara.
Maka jangan pernah memandang rendah mereka.
Justru kita harus bertanya:
Bagaimana membuat orang yang hari ini hanya mampu memikirkan makan siang, besok mampu memikirkan pendidikan anaknya, lusa mampu membangun usaha, dan beberapa tahun kemudian mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain?
Itulah pembangunan yang manusiawi.
Ukuran kemajuan yang sesungguhnya
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara melihat keberhasilan pembangunan.
Jangan hanya bertanya:
Berapa persen pertumbuhan ekonomi?
Tetapi tanyakan juga:
Berapa banyak keluarga yang sekarang mempunyai tabungan?
Berapa banyak anak muda yang mempunyai pekerjaan produktif?
Berapa banyak UMKM yang naik kelas?
Berapa banyak petani yang memperoleh nilai tambah?
Berapa banyak masyarakat yang berani membuka usaha?
Berapa banyak keluarga yang mulai merencanakan masa depan?
Dan pertanyaan paling penting:
Berapa banyak rakyat Indonesia yang hari ini tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi sudah berani bermimpi?
EPILOG: Jangan biarkan rakyat kehilangan masa depan
Sebuah bangsa akan menghadapi bahaya ketika rakyatnya kehilangan harapan.
Karena rakyat yang kehilangan harapan akan berkata:
“Untuk apa memikirkan masa depan? Yang penting hari ini saya bisa hidup.”
Sebaliknya, masyarakat yang mempunyai harapan akan berkata:
“Hari ini saya bekerja keras karena saya percaya kehidupan anak saya besok bisa lebih baik.”
Di antara dua kalimat itu terdapat masa depan Indonesia.
Karena itu, pekerjaan besar negara bukan hanya membuat rakyat mendapat uang.
Tetapi membuat rakyat mempunyai kesempatan, martabat, keamanan, pengetahuan, dan harapan.
Sehingga suatu hari nanti, ketika kita kembali melihat sebuah warung sederhana seperti dalam foto itu, kita tidak hanya melihat orang-orang yang sedang makan.
Kita melihat:
seorang pedagang yang sedang membangun masa depan usahanya,
seorang pekerja yang sedang menyiapkan masa depan keluarganya,
seorang ayah yang sedang membiayai pendidikan anaknya,
seorang anak muda yang sedang menyiapkan masa depannya,
dan sebuah bangsa yang sedang bergerak menuju masa depannya.
Karena Indonesia maju bukan ketika rakyat hanya mampu bertahan hidup.
Indonesia maju ketika rakyat sudah berani merencanakan hidup.
Dan Indonesia benar-benar menjadi bangsa besar ketika rakyatnya bukan hanya mencari nafkah untuk dirinya sendiri, tetapi mampu menciptakan nilai dan kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
🇮🇩
“Jangan hanya membangun negara untuk rakyat. Bangunlah rakyat agar mampu membangun negaranya.” 🙏✨














