Penulis : Tim
Editor : Redaksi
Koranpilar.com, Tulungagung – Akhirnya Baru Klinthing menyiasati dengan menjulurkan lidahnya. Mengetahui hal tersebut Ki Wonoboyo lantas memutus lidah Baru Klinthing dan seketika lidahnya jatuh ke tanah dan berubah menjadi Pusaka Tombak. Baru Klinthing kemudian melarikan diri dan terjun ke laut Selatan.
Keajaiban kembali terjadi, begitu Baru Klinthing terjun ke laut, hilang musnah bentuknya lalu muncullah sebatang kayu yang langsung dipakai oleh Ki Wonoboyo untuk tempat tombak yang kemudian diberi nama Tombak Kanjeng Kyai Upas.
Sepeninggal Ki Wonoboyo, pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas diwariskan kepada putranya yang bernama Ki Ajar Mangir. Merasa memiliki pusaka yang ampuh, dia tidak mau tunduk kepada pemerintahan Mataram. Raja Mataram lantas memerintahkan Putri Pembayun, yaitu putri sulungnya untuk mencari kelemahan Ki Ajar Mangir dengan menjadi penari keliling.
Singkat cerita, Ki Ajar Mangir jatuh cinta kepada Putri Pembayun dan akhirnya menikah. Namun, Putri Pembayun tetap ingat akan tugasnya. Ia berhasil membawa Ki Ajar Mangir untuk menghadap Raja Mataram sebagai ayah mertua Ki Ajar Mangir dengan membawa Pusaka Tombak Kyai Upas.

Namun karena menghadap raja, maka pusaka tidak boleh dibawa masuk keraton. Saat Ki Ajar Mangir sungkem di hadapan Raja Mataram, Raja Mataram langsung membenturkan kepala KI Ajar Mangir pada dhampar raja yang terbuat dari batu hingga meninggal dunia.
Namun, keberadaan pusaka tersebut rupanya membawa bencana/musibah di kerajaan Mataram, sehingga pusaka tersebut diserahkan kepada salah satu putranya yang menjadi Adipati di Ngrawa (Kabupaten Tulungagung). Tombak Kyai Upas menjadi pusaka piyandel Bupati Tulungagung secara turun temurun hingga saat ini.
Dalam perjalanan sejarahnya, Tombak Kanjeng Kyai Upas berhasil menyelamatkan Kabupaten Tulungagung dari serangan penjajah Belanda hingga tentara Belanda tidak bisa memasuki Kabupaten Tulungagung.
PERLENGKAPAN SIRAMAN/RITUAL
a. Ritual setiap hari Kamis. 1. Ayam panggang item mulus dua ekor. 2. Satu ambengan apem yang berisi 28 biji. 3. Dua buceng nasi gurih. 4. Gantenan lengkap (untuk makan sirih). 5. Dua lirang pisang raja. 6. Bunga melati yang dironce. 7. Cuplak minyak jarak sebagai lampunya.
Barang-barang tersebut harus disajikan di dalam kamar oleh embannya. Pada waktu emban menyajikan sajen itu, lampu cuplak yang berisi minyak jarak harus dinyalakan dengan disertai membakar menyan (dupa). (bersambung…….).













