Jayapura – Ketika keindahan alam Indonesia mulai dari pantai hingga gunung memikat dunia, ada satu profesi di garis depan yang memegang peranan krusial adalah pemandu wisata.
Mereka bukan sekadar fasilitator perjalanan, melainkan wajah pertama yang menyambut dan suara yang merangkai narasi kebudayaan Indonesia di mata wisatawan.
Menurut Lenorci Seo, mahasiswa Program Studi Perhotelan (PS Perhotelan) AKPAR 45 Jayapura, peran pemandu wisata jauh melampaui tugas mengantar.
Mereka adalah penerjemah sejati, mengurai filosofi tersembunyi di balik ritual adat, simbol di candi, atau bahkan makna dalam sepiring makanan tradisional. Dalam kapasitas ini, pemandu wisata secara nyata menjalankan tugas sebagai duta budaya bangsa.
Peran sebagai duta budaya membawa tanggung jawab besar terhadap citra Indonesia secara keseluruhan. Satu interaksi positif sikap ramah, penjelasan yang jujur, atau bantuan kecil mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap negara kita. Sebaliknya, layanan yang tidak profesional atau informasi yang menyesatkan dapat meninggalkan kesan buruk yang abadi.
Oleh karena itu, dukungan dari negara dan pelaku industri pariwisata menjadi sangat penting. Pemandu wisata perlu diakui sebagai profesi yang layak, dengan perlindungan kerja, penghasilan yang manusiawi, dan ruang untuk terus belajar.
Di tengah era pariwisata yang kian kompetitif, peningkatan kompetensi pemandu wisata menjadi keharusan, bukan lagi pilihan. Kompetensi ini mencakup penguasaan bahasa asing, pengetahuan sejarah dan budaya, pemahaman keberagaman lokal, hingga kemampuan komunikasi lintas budaya.
Ketua Program Studi Perhotelan AKPAR 45 Jayapura, Rizky Adithia Putra Usulu, S.Par., MM.Par, menegaskan perlunya profesionalisasi melalui standar dan etika yang jelas.
“Sertifikasi yang jelas, pelatihan berkelanjutan, dan standar etika yang tegas akan membantu pemandu wisata menjalankan perannya dengan percaya diri dan terhormat. Ketika negara serius menyiapkan sumber daya manusia pariwisata yang kuat, maka setiap perjalanan wisata otomatis menjadi ruang diplomasi budaya yang efektif,” kata Rizky Adithia Putra Usulu.
Selain sebagai komunikator, pemandu wisata juga memegang peranan kunci dalam menjaga keberlanjutan budaya. Melalui cara yang persuasif di lapangan, mereka dapat mengingatkan wisatawan untuk berpakaian sopan di kawasan sakral, tidak merusak situs bersejarah, dan menghargai ruang hidup masyarakat setempat. Edukasi langsung ini sering kali jauh lebih efektif daripada sekadar poster aturan tertulis.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Tata Pergaulan dan Etika, Nur Mahmudah El Madja, S.Sos. M.Med.Kom, menyimpulkan bahwa kunci kemajuan pariwisata terletak pada kualitas sumber daya manusia di garis terdepan.
“Bila kita sungguh-sungguh ingin menjadikan pariwisata sebagai kekuatan budaya dan ekonomi, kita harus mulai dari manusia yang berdiri di garis depan: pemandu wisata. Di wajah mereka, dunia melihat Indonesia; di kata-kata mereka, dunia mengenal siapa kita sebenarnya,” pungkas Nur Mahmudah El Madja.
Dengan menempatkan pemandu wisata sebagai profesi terhormat dan terdidik, Indonesia dapat memastikan bahwa setiap perjalanan wisata adalah sebuah pesan budaya yang bermartabat dan positif.









