koranpilar.com, Tulungagung. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung melakukan fogging (pengasapan) di SDN Ketanon 2 setelah menerima laporan seorang siswa meninggal akibat demam berdarah pada Jumat (21/2).
Desi Lusiana Wardhani, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, menyampaikan bahwa fogging merupakan langkah terakhir dalam upaya pencegahan penularan demam berdarah.
“Pengasapan ini adalah langkah terakhir untuk memutus penyebaran DB,” jelas Desi.
Menurutnya, cara paling efektif dalam mencegah demam berdarah adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara berkala di lingkungan sekolah, tempat kerja, maupun rumah.
“Selain di sekolah, kami juga melakukan pengasapan di rumah penderita DB yang meninggal,” tambahnya.
Fogging dilakukan jika ditemukan setidaknya dua kasus dalam radius 200 meter dan terbukti ada penularan berdasarkan penyelidikan epidemiologi. Desi menekankan bahwa kebersihan lingkungan berperan penting dalam mencegah penyebaran penyakit ini.
Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang memiliki ciri khas tubuh belang hitam dan putih. Nyamuk ini aktif pada pagi dan sore hari serta berkembang biak di genangan air bersih, terutama saat musim hujan yang diselingi panas.
“Tempat yang lembab sangat disukai oleh nyamuk untuk beraktivitas,” ujarnya.
Data Dinkes menunjukkan bahwa dalam dua bulan terakhir, terdapat 198 kasus DB di Tulungagung dengan empat korban meninggal, terdiri dari tiga anak dan satu balita. Ada kemungkinan anak-anak tersebut tertular DB di lingkungan sekolah, sehingga diperlukan PSN secara serentak di sekolah-sekolah.
Dinkes akan mengirimkan surat kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung untuk mengimbau sekolah-sekolah agar rutin melakukan PSN.
“Dengan PSN rutin di sekolah, kami berharap risiko penularan DB pada anak-anak bisa ditekan,” pungkas Desi.









