Sabtu, Agustus 22, 2026
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
No Result
View All Result
Home Daerah Surabaya

by Redaksi
Sabtu, 22 Agustus 2026, 17:11 WIB
A A

Berfoto bersama istri diatas kapal pesiar saat berkunjung ke Norwegia pada 13 September 2025

MENGAPA INDONESIA HARUS MULAI MENDESAIN PEMBANGUNAN LINTAS GENERASI?

Oleh: Bagus Budi Hermanto.

Editor : Redaksi

Koranpilar.com. Surabaya – Ada satu pertanyaan yang jarang sekali kita ajukan ketika membicarakan masa depan Indonesia.

Apakah kita sedang membangun negara untuk lima tahun ke depan, atau untuk lima puluh tahun ke depan?

Pertanyaan itu muncul ketika kita memperhatikan sebuah paradoks yang menarik. Ada negara yang dianugerahi kekayaan alam melimpah tetapi masih bergulat dengan berbagai persoalan tata kelola. Sebaliknya, ada negara yang sumber daya alamnya terbatas, namun mampu membangun kemakmuran yang bertahan lintas generasi.

Norwegia sering disebut sebagai contoh keberhasilan mengelola kekayaan alam. Singapura, Swiss, dan Jepang menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya bukan penghalang menjadi negara maju. Benang merah di antara mereka bukanlah jumlah minyak, emas, atau tambang yang dimiliki.

Benang merahnya adalah institusi yang kuat, manusia yang unggul, dan keberanian berpikir jauh melampaui satu generasi.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa, bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta letak geografis yang strategis. Namun modal tidak otomatis berubah menjadi kemakmuran.

Modal harus didesain.

Pelajaran yang Lebih Besar daripada Norwegia

Banyak orang mengagumi Norwegia karena fjord-nya yang indah, kereta api yang nyaman, kota-kota yang tertata, atau tingkat kesejahteraan yang tinggi.

Namun pelajaran terbesarnya bukanlah pemandangannya.

Pelajaran terbesarnya adalah cara berpikir.

Ketika menemukan minyak dalam jumlah besar, Norwegia tidak memperlakukannya sekadar sebagai sumber pendapatan tahunan. Pemerintah membangun Government Pension Fund Global, sebuah mekanisme yang mengalihkan hasil minyak menjadi tabungan investasi bagi generasi mendatang, sementara penggunaannya dibatasi oleh aturan fiskal yang disiplin agar manfaatnya tidak habis dinikmati satu generasi saja.

Baca Juga :  Eri Cahyadi 'Ngedabrus'? Jangan Biarkan Nama Partai Tercoreng!

Ada filosofi yang sangat kuat di balik kebijakan itu.

Minyak adalah warisan yang terbatas. Maka hasilnya harus diubah menjadi kekayaan yang tidak terbatas usianya.

Kekayaan itu diwujudkan dalam pendidikan, kesehatan, riset, teknologi, dan kualitas manusia.

Indonesia tentu tidak harus menjadi Norwegia.

Tetapi Indonesia dapat belajar dari cara berpikir tersebut.

Institusi : Mesin yang Tidak Terlihat

Ketika kita berbicara tentang institusi, banyak orang membayangkan gedung kementerian atau lembaga pemerintahan.

Padahal institusi jauh lebih sederhana daripada itu.

Lebih dapat diibaratkan seperti sistem operasi pada sebuah komputer.

Perangkat keras boleh sangat mahal.

Prosesornya boleh cepat.

Memorinya boleh besar.

Tetapi jika sistem operasinya bermasalah, seluruh perangkat akan berjalan lambat.

Begitu pula negara.

Sumber daya alam adalah perangkat kerasnya.

Penduduk adalah energinya.

Tetapi institusi adalah sistem operasinya.

Institusi yang baik memiliki ciri-ciri sederhana namun sangat menentukan: aturan yang jelas, pelayanan yang mudah dipahami, anggaran yang transparan, keputusan yang dapat diaudit, serta hukum yang berlaku tanpa membedakan siapa pelakunya.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara negara yang terus berlari mengejar masalah dan negara yang berhasil mencegah masalah sebelum muncul.

Institusi yang baik tidak mengandalkan kesempurnaan manusia.

Ia justru dirancang agar manusia biasa terdorong melakukan hal yang benar.

Indonesia Memerlukan Pergeseran Cara Berpikir.

Data menunjukkan bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar.

Dalam Corruption Perceptions Index 2025, Indonesia memperoleh skor 34, sedangkan Norwegia memperoleh skor 81. Indeks ini mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik, sehingga lebih tepat dibaca sebagai indikator kualitas tata kelola daripada penilaian moral su…suatu bangsa.

Sementara itu, KPK masih menangani ratusan perkara korupsi setiap tahun serta terus melakukan pemulihan aset Negara.

Baca Juga :  DPC PDI PERJUANGAN KOTA SURABAYA, MEMANGGIL SAUDARA WARDOYO SH. TERKAIT PEMBERITAAN DI MEDIA DENGAN JUDUL "ERI CAHYADI NGEDABRUS"

Fakta-fakta tersebut seharusnya tidak hanya melahirkan kemarahan.

Ia harus melahirkan pertanyaan yang lebih cerdas.

Mengapa ruang untuk penyalahgunaan kekuasaan masih tersedia?

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan ceramah tentang kejujuran.

Kita membutuhkan desain sistem yang membuat kejujuran menjadi pilihan paling mudah.

Bayangkan ketika mengurus izin tidak lagi membutuhkan banyak meja.

Ketika seluruh proses dapat dilacak.

Ketika pembayaran tercatat secara digital.

Ketika konflik kepentingan wajib diumumkan.

Ketika setiap keputusan meninggalkan jejak.

Dalam situasi seperti itu, korupsi berubah menjadi pekerjaan yang semakin sulit dilakukan.

Enam Pilar Indonesia Lintas Generasi

Indonesia memerlukan sedikitnya enam pilar besar untuk membangun fiskal yang kuat dan pembangunan yang berkelanjutan.

Pertama, ekonomi yang produktif.

Kita harus bergerak dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah, teknologi, dan inovasi.

Kedua, fiskal yang sehat.

Utang bukanlah musuh. Yang berbahaya adalah utang yang tidak menghasilkan produktivitas. Setiap rupiah yang dipinjam seharusnya menciptakan kapasitas baru bagi bangsa.

Ketiga, institusi yang dipercaya.

Kepercayaan publik adalah modal ekonomi yang sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan investasi dan pertumbuhan.

Keempat, manusia yang unggul.

Tambang suatu hari akan habis.

Tetapi manusia yang terdidik akan terus menciptakan nilai.

Kelima, daya saing nasional.

Infrastruktur, logistik, energi, dan kepastian hukum harus menjadi fondasi pertumbuhan.

Keenam, keberlanjutan antar generasi.

Setiap kebijakan publik seharusnya diuji dengan satu pertanyaan sederhana:

Apakah keputusan ini membuat anak cucu kita hidup lebih baik daripada kita?

Negara yang Berani Mendesain Masa Depan

Salah satu kelemahan banyak negara berkembang adalah terlalu sibuk mengelola hari ini.

Baca Juga :  Lewat Film ISTIMEWA, IKAPPI Jatim Soroti Akses Kesehatan dan Pendidikan Anak Disabilitas

Padahal negara maju hampir selalu memiliki satu kesamaan.

Mereka berani berpikir panjang.

Jalan raya dapat selesai dalam lima tahun.

Pelabuhan dapat selesai dalam sepuluh tahun.

Tetapi membangun budaya hukum membutuhkan puluhan tahun.

Universitas dapat dibangun dalam beberapa tahun.

Namun menghasilkan ilmuwan kelas dunia membutuhkan satu generasi.

Teknologi dapat dibeli hari ini.

Tetapi membangun ekosistem inovasi membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan.

Di sinilah makna sesungguhnya dari mendesain masa depan.

Bukan sekadar membuat rencana.

Melainkan menciptakan sistem yang tetap bekerja bahkan ketika pemimpinnya berganti.

Warisan Terbesar Sebuah Bangsa

Suatu hari minyak dapat habis.

Tambang dapat menipis.

Hutan dapat berkurang.

Tetapi jika hari ini kita berhasil membangun institusi yang dipercaya, manusia yang unggul, ekonomi yang produktif, dan fiskal yang sehat, Indonesia akan tetap berdiri kokoh.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa besar anggaran yang pernah kita kelola.

Sejarah akan bertanya:

Ketika tiba giliran kita menjaga Indonesia, apa yang kita tinggalkan bagi mereka yang belum lahir?

Mungkin di situlah makna pembangunan yang sesungguhnya.

Bukan sekadar memperbesar angka pertumbuhan.

Bukan sekadar menambah proyek.

Melainkan memastikan bahwa setiap generasi menerima warisan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Dan jika suatu hari anak cucu kita hidup di Indonesia yang lebih adil, lebih makmur, dan lebih dipercaya oleh warganya sendiri, maka mereka mungkin tidak akan mengingat siapa yang membangun setiap jalan, setiap gedung, atau setiap kebijakan.

Tetapi mereka akan merasakan hasilnya.

”Karena warisan terbesar sebuah bangsa bukanlah apa yang berhasil diambil dari buminya.”

Warisan terbesar sebuah bangsa adalah masa depan yang berhasil ditinggalkannya.

ShareSendTweet
Previous Post

PLT BUPATI TULUNGAGUNG, H. AHMAD BAHARUDIN MELANTIK PENGURUS BAZNAS PERIODE 2026 -2031

Related Posts

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Grahadi: Gelorakan Semangat Wujudkan Kedaulatan, Keadilan dan Kemakmuran Bangsa
Surabaya

Gubernur Khofifah Pimpin Upacara HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Grahadi: Gelorakan Semangat Wujudkan Kedaulatan, Keadilan dan Kemakmuran Bangsa

Selasa, 18 Agustus 2026, 05:44 WIB
Lewat Film ISTIMEWA, IKAPPI Jatim Soroti Akses Kesehatan dan Pendidikan Anak Disabilitas
Surabaya

Lewat Film ISTIMEWA, IKAPPI Jatim Soroti Akses Kesehatan dan Pendidikan Anak Disabilitas

Senin, 17 Agustus 2026, 13:52 WIB
Gubernur Khofifah Hadirkan Kado HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Naik Trans Jatim Gratis Seharian pada 17 Agustus 2026
Surabaya

Gubernur Khofifah Hadirkan Kado HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Naik Trans Jatim Gratis Seharian pada 17 Agustus 2026

Minggu, 16 Agustus 2026, 17:26 WIB
81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?  Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).
Surabaya

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?. Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Empat.. Tamat)

Minggu, 16 Agustus 2026, 16:53 WIB
81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?  Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).
Surabaya

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?. Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Tiga)

Sabtu, 15 Agustus 2026, 12:42 WIB
81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?  Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).
Surabaya

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?. Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Dua).

Jumat, 14 Agustus 2026, 05:00 WIB

Recommended

Kader PKB Tulungagung Laporkan Mantan Sekjen PKB ke Polisi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Kader PKB Tulungagung Laporkan Mantan Sekjen PKB ke Polisi atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Jumat, 9 Agustus 2024, 16:58 WIB
Tegas! Batasan Sound System Pawai Ditetapkan: Maksimal 10.000 Watt dan 80 dB

Tegas! Batasan Sound System Pawai Ditetapkan: Maksimal 10.000 Watt dan 80 dB

Kamis, 24 Juli 2025, 21:01 WIB

Don't miss it

Surabaya

Sabtu, 22 Agustus 2026, 17:11 WIB
PLT BUPATI TULUNGAGUNG, H. AHMAD BAHARUDIN MELANTIK PENGURUS BAZNAS PERIODE 2026 -2031
Tulungagung

PLT BUPATI TULUNGAGUNG, H. AHMAD BAHARUDIN MELANTIK PENGURUS BAZNAS PERIODE 2026 -2031

Jumat, 21 Agustus 2026, 13:43 WIB
SEJARAH BERDIRINYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA 17 Agustus 1945 Disampaikan Pada Malam Tirakatan 16 Agustus 2026 (Episode Dua….)
Beranda

SEJARAH BERDIRINYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA 17 Agustus 1945 Disampaikan pada malam Tirakatan 16 Agustus 2026 (Tamat….)

Kamis, 20 Agustus 2026, 11:19 WIB
Normalisasi Kali, Dinas PU SDA Jatim Normalisasi Saluran Irigasi Gemekan–Sambiroto Mojokerto
Mojokerto

Normalisasi Kali, Dinas PU SDA Jatim Normalisasi Saluran Irigasi Gemekan–Sambiroto Mojokerto

Kamis, 20 Agustus 2026, 11:11 WIB
HUT RI ke-81, Plt. Bupati Tulungagung Serahkan SK Remisi Ke 386 Warga Binaan Lapas Tulungagung
Beranda

HUT RI ke-81, Plt. Bupati Tulungagung Serahkan SK Remisi Ke 386 Warga Binaan Lapas Tulungagung

Selasa, 18 Agustus 2026, 06:40 WIB
SEJARAH BERDIRINYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA 17 Agustus 1945 Disampaikan Pada Malam Tirakatan 16 Agustus 2026 (Episode Dua….)
Beranda

SEJARAH BERDIRINYA NEGARA REPUBLIK INDONESIA 17 Agustus 1945 Disampaikan Pada Malam Tirakatan 16 Agustus 2026 (Episode Dua….)

Selasa, 18 Agustus 2026, 05:54 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kode Etik Jurnalistik

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved