MENGAPA INDONESIA HARUS MULAI MENDESAIN PEMBANGUNAN LINTAS GENERASI?
Oleh: Bagus Budi Hermanto.
Editor : Redaksi
Koranpilar.com. Surabaya – Ada satu pertanyaan yang jarang sekali kita ajukan ketika membicarakan masa depan Indonesia.
Apakah kita sedang membangun negara untuk lima tahun ke depan, atau untuk lima puluh tahun ke depan?
Pertanyaan itu muncul ketika kita memperhatikan sebuah paradoks yang menarik. Ada negara yang dianugerahi kekayaan alam melimpah tetapi masih bergulat dengan berbagai persoalan tata kelola. Sebaliknya, ada negara yang sumber daya alamnya terbatas, namun mampu membangun kemakmuran yang bertahan lintas generasi.
Norwegia sering disebut sebagai contoh keberhasilan mengelola kekayaan alam. Singapura, Swiss, dan Jepang menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya bukan penghalang menjadi negara maju. Benang merah di antara mereka bukanlah jumlah minyak, emas, atau tambang yang dimiliki.
Benang merahnya adalah institusi yang kuat, manusia yang unggul, dan keberanian berpikir jauh melampaui satu generasi.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar. Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa, bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta letak geografis yang strategis. Namun modal tidak otomatis berubah menjadi kemakmuran.
Modal harus didesain.
Pelajaran yang Lebih Besar daripada Norwegia
Banyak orang mengagumi Norwegia karena fjord-nya yang indah, kereta api yang nyaman, kota-kota yang tertata, atau tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Namun pelajaran terbesarnya bukanlah pemandangannya.
Pelajaran terbesarnya adalah cara berpikir.
Ketika menemukan minyak dalam jumlah besar, Norwegia tidak memperlakukannya sekadar sebagai sumber pendapatan tahunan. Pemerintah membangun Government Pension Fund Global, sebuah mekanisme yang mengalihkan hasil minyak menjadi tabungan investasi bagi generasi mendatang, sementara penggunaannya dibatasi oleh aturan fiskal yang disiplin agar manfaatnya tidak habis dinikmati satu generasi saja.
Ada filosofi yang sangat kuat di balik kebijakan itu.
Minyak adalah warisan yang terbatas. Maka hasilnya harus diubah menjadi kekayaan yang tidak terbatas usianya.
Kekayaan itu diwujudkan dalam pendidikan, kesehatan, riset, teknologi, dan kualitas manusia.
Indonesia tentu tidak harus menjadi Norwegia.
Tetapi Indonesia dapat belajar dari cara berpikir tersebut.
Institusi : Mesin yang Tidak Terlihat
Ketika kita berbicara tentang institusi, banyak orang membayangkan gedung kementerian atau lembaga pemerintahan.
Padahal institusi jauh lebih sederhana daripada itu.
Lebih dapat diibaratkan seperti sistem operasi pada sebuah komputer.
Perangkat keras boleh sangat mahal.
Prosesornya boleh cepat.
Memorinya boleh besar.
Tetapi jika sistem operasinya bermasalah, seluruh perangkat akan berjalan lambat.
Begitu pula negara.
Sumber daya alam adalah perangkat kerasnya.
Penduduk adalah energinya.
Tetapi institusi adalah sistem operasinya.
Institusi yang baik memiliki ciri-ciri sederhana namun sangat menentukan: aturan yang jelas, pelayanan yang mudah dipahami, anggaran yang transparan, keputusan yang dapat diaudit, serta hukum yang berlaku tanpa membedakan siapa pelakunya.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara negara yang terus berlari mengejar masalah dan negara yang berhasil mencegah masalah sebelum muncul.
Institusi yang baik tidak mengandalkan kesempurnaan manusia.
Ia justru dirancang agar manusia biasa terdorong melakukan hal yang benar.
Indonesia Memerlukan Pergeseran Cara Berpikir.
Data menunjukkan bahwa pekerjaan rumah Indonesia masih besar.
Dalam Corruption Perceptions Index 2025, Indonesia memperoleh skor 34, sedangkan Norwegia memperoleh skor 81. Indeks ini mengukur persepsi terhadap korupsi sektor publik, sehingga lebih tepat dibaca sebagai indikator kualitas tata kelola daripada penilaian moral su…suatu bangsa.
Sementara itu, KPK masih menangani ratusan perkara korupsi setiap tahun serta terus melakukan pemulihan aset Negara.
Fakta-fakta tersebut seharusnya tidak hanya melahirkan kemarahan.
Ia harus melahirkan pertanyaan yang lebih cerdas.
Mengapa ruang untuk penyalahgunaan kekuasaan masih tersedia?
Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan ceramah tentang kejujuran.
Kita membutuhkan desain sistem yang membuat kejujuran menjadi pilihan paling mudah.
Bayangkan ketika mengurus izin tidak lagi membutuhkan banyak meja.
Ketika seluruh proses dapat dilacak.
Ketika pembayaran tercatat secara digital.
Ketika konflik kepentingan wajib diumumkan.
Ketika setiap keputusan meninggalkan jejak.
Dalam situasi seperti itu, korupsi berubah menjadi pekerjaan yang semakin sulit dilakukan.
Enam Pilar Indonesia Lintas Generasi
Indonesia memerlukan sedikitnya enam pilar besar untuk membangun fiskal yang kuat dan pembangunan yang berkelanjutan.
Pertama, ekonomi yang produktif.
Kita harus bergerak dari ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah, teknologi, dan inovasi.
Kedua, fiskal yang sehat.
Utang bukanlah musuh. Yang berbahaya adalah utang yang tidak menghasilkan produktivitas. Setiap rupiah yang dipinjam seharusnya menciptakan kapasitas baru bagi bangsa.
Ketiga, institusi yang dipercaya.
Kepercayaan publik adalah modal ekonomi yang sering tidak terlihat, tetapi sangat menentukan investasi dan pertumbuhan.
Keempat, manusia yang unggul.
Tambang suatu hari akan habis.
Tetapi manusia yang terdidik akan terus menciptakan nilai.
Kelima, daya saing nasional.
Infrastruktur, logistik, energi, dan kepastian hukum harus menjadi fondasi pertumbuhan.
Keenam, keberlanjutan antar generasi.
Setiap kebijakan publik seharusnya diuji dengan satu pertanyaan sederhana:
Apakah keputusan ini membuat anak cucu kita hidup lebih baik daripada kita?
Negara yang Berani Mendesain Masa Depan
Salah satu kelemahan banyak negara berkembang adalah terlalu sibuk mengelola hari ini.
Padahal negara maju hampir selalu memiliki satu kesamaan.
Mereka berani berpikir panjang.
Jalan raya dapat selesai dalam lima tahun.
Pelabuhan dapat selesai dalam sepuluh tahun.
Tetapi membangun budaya hukum membutuhkan puluhan tahun.
Universitas dapat dibangun dalam beberapa tahun.
Namun menghasilkan ilmuwan kelas dunia membutuhkan satu generasi.
Teknologi dapat dibeli hari ini.
Tetapi membangun ekosistem inovasi membutuhkan konsistensi lintas pemerintahan.
Di sinilah makna sesungguhnya dari mendesain masa depan.
Bukan sekadar membuat rencana.
Melainkan menciptakan sistem yang tetap bekerja bahkan ketika pemimpinnya berganti.
Warisan Terbesar Sebuah Bangsa
Suatu hari minyak dapat habis.
Tambang dapat menipis.
Hutan dapat berkurang.
Tetapi jika hari ini kita berhasil membangun institusi yang dipercaya, manusia yang unggul, ekonomi yang produktif, dan fiskal yang sehat, Indonesia akan tetap berdiri kokoh.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya berapa besar anggaran yang pernah kita kelola.
Sejarah akan bertanya:
Ketika tiba giliran kita menjaga Indonesia, apa yang kita tinggalkan bagi mereka yang belum lahir?
Mungkin di situlah makna pembangunan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar memperbesar angka pertumbuhan.
Bukan sekadar menambah proyek.
Melainkan memastikan bahwa setiap generasi menerima warisan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Dan jika suatu hari anak cucu kita hidup di Indonesia yang lebih adil, lebih makmur, dan lebih dipercaya oleh warganya sendiri, maka mereka mungkin tidak akan mengingat siapa yang membangun setiap jalan, setiap gedung, atau setiap kebijakan.
Tetapi mereka akan merasakan hasilnya.
”Karena warisan terbesar sebuah bangsa bukanlah apa yang berhasil diambil dari buminya.”
Warisan terbesar sebuah bangsa adalah masa depan yang berhasil ditinggalkannya.












