
koranpilar.com, Tulungagung. Bupati Tulungagung, Gatut Sunu, menegaskan komitmennya untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten (Pemkab), tingkat pendidikan masyarakat Tulungagung masih didominasi oleh lulusan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Ke depan, kita harus bahu-membahu untuk mewujudkan pendidikan Tulungagung yang lebih maju,” ujarnya usai memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5).
Ia juga menyinggung program wajib belajar 13 tahun yang mulai diterapkan pada tahun 2025.
Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Puspita Rahadi, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 2.000 anak usia sekolah yang mengalami putus sekolah. Ia menyebutkan bahwa penyebab utama putus sekolah adalah faktor ekonomi, di samping kekerasan dalam dunia pendidikan.
“Namun, sebagian besar anak memilih bekerja untuk mendapatkan uang dibanding melanjutkan sekolah,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, kekerasan seperti bullying dan kekerasan seksual juga menjadi penyebab anak-anak enggan melanjutkan pendidikan. Untuk kasus tersebut, pihaknya telah menyiapkan pendampingan psikologis bagi para korban.
Dinas Pendidikan berencana melakukan pendekatan langsung kepada anak dan keluarga guna menekan angka putus sekolah.
Di sisi lain, Puspita juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas tenaga pengajar. Banyak guru di Tulungagung yang sudah berusia lanjut. Meski begitu, ia memastikan bahwa para guru tersebut telah beradaptasi dengan sistem pendidikan terbaru.
“Mereka sudah menggunakan Kurikulum Merdeka,” tambahnya.
Untuk meningkatkan kapasitas guru, pihaknya mengembangkan Program Guru Penggerak, yang kini menjadi salah satu syarat untuk menduduki posisi Kepala Sekolah.
“Saat ini, sekitar 80 persen guru di Tulungagung telah mengikuti Program Guru Penggerak,” jelasnya.
Jumlah guru berstatus ASN di Kabupaten Tulungagung saat ini mencapai sekitar 9.000 orang.








