koranpilar.com, Tulungagung. Ma’ruf Prasetio Hadianto resmi menjabat sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Tulungagung. Dengan segudang pengalaman yang ia miliki, terutama saat memimpin Lapas Kelas IIB Pasuruan, Ma’ruf siap membawa inovasi untuk memberdayakan warga binaan (wabin).
“Bagi saya, lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tapi juga tempat membangun harapan baru. Karena itu, program yang kami jalankan harus sesuai dengan kondisi dan potensi di sini,” ungkapnya setelah serah terima jabatan dari R. Budiman Kusumah pada Jumat (14/2).
Salah satu fokus utama Ma’ruf adalah menciptakan program kerja yang konkret dan berdampak nyata. Di Lapas Pasuruan, ia sukses menggandeng pihak ketiga untuk membangun industri konveksi yang melibatkan 150 warga binaan sebagai tenaga kerja. Tak hanya itu, ia juga mengembangkan peternakan ayam petelur dengan 400 ekor, peternakan bebek petelur, budidaya ikan, hingga pelatihan barista bagi warga binaan.
Di Tulungagung, ia melihat peluang besar untuk menerapkan program serupa. “Sumber daya di sini cukup potensial. Saya ingin menggerakkan mereka agar memiliki keterampilan dan produktivitas yang bisa bermanfaat setelah bebas,” ujarnya dengan penuh optimisme. Bahkan, ia melirik sektor kerajinan marmer sebagai potensi unggulan daerah.
“Setiap lapas harus punya produk kebanggaan sendiri. Saya ingin konsep One Prison, One Product benar-benar terwujud di sini,” tegasnya.
Program pemberdayaan semacam ini bukan hal baru. Lapas-lapas lain di Indonesia, seperti Lapas Kelas I Tangerang dengan industri roti dan Lapas Perempuan Malang dengan batik, telah membuktikan bahwa warga binaan bisa berkarya dan berdaya. Dengan pendekatan yang tepat, Ma’ruf berharap Lapas Tulungagung bisa menjadi salah satu contoh sukses dalam membangun kembali masa depan para warga binaan.
“Bagi saya, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan di sini, kita akan memastikan kesempatan itu ada,” pungkasnya.









