koranpilar.com, Tulungagung. Pemkab Tulungagung mempertimbangkan penutupan sementara Pasar Hewan Terpadu (PHT) Sumbergempol menyusul kekhawatiran peternak terkait penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dari luar daerah. Langkah ini merupakan respons atas desakan pedagang dan peternak sapi di Tulungagung yang khawatir terhadap kesehatan ternaknya.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekda Kabupaten Tulungagung, Tri Hariadi, Senin (6/1). “Kami berencana menutup sementara PHT selama sekitar dua minggu,” ujar Tri.
Langkah Antisipasi dan Evaluasi
Tri menjelaskan bahwa penutupan sementara ini dilakukan untuk memberi ruang bagi peternak dan pedagang untuk introspeksi, sekaligus memastikan penularan PMK tidak meluas. “Peternak diharapkan dapat lebih fokus pada penyembuhan ternak yang sakit, sementara yang sehat bisa dipertahankan kondisinya,” imbuhnya.
Setelah masa penutupan 14 hari, Pemkab akan melakukan evaluasi situasi. “Jika kondisi memburuk, tidak menutup kemungkinan penutupan akan diperpanjang,” tegas Tri.
Kesadaran Peternak Jadi Kunci
Kesadaran peternak dalam menjaga higienitas kandang menjadi salah satu faktor yang membuat penyebaran PMK di Tulungagung relatif terkendali dibandingkan daerah lain di Jawa Timur. Menurut drh. Tutus Sumaryani, upaya ini ditambah dengan pelaporan cepat oleh peternak sehingga petugas kesehatan hewan dapat segera memberikan perawatan.
“Dengan pelaporan cepat dan langkah penanganan yang efektif, penyebaran PMK dapat ditekan,” ujar Tutus. Ia juga menekankan bahwa hingga kini belum ada laporan kematian sapi akibat PMK di Tulungagung.
Tantangan Lalu Lintas Ternak
Meski demikian, lalu lintas ternak antar wilayah melalui pasar hewan tetap menjadi tantangan. “Sebagian besar sapi yang terjangkit PMK bukan berasal dari Tulungagung, melainkan didatangkan dari luar daerah,” jelas Tutus.
Penutupan total akses lalu lintas ternak dinilai sulit dilakukan karena dapat memengaruhi roda perekonomian, khususnya di sektor peternakan. Namun, dengan langkah penutupan pasar sementara, diharapkan risiko penularan PMK dapat diminimalkan tanpa mengganggu kegiatan ekonomi secara signifikan.
Pemkab Tulungagung optimis bahwa melalui langkah kolaboratif antara pemerintah, peternak, dan pedagang, kondisi kesehatan ternak di wilayah tersebut dapat terus terjaga.









