Kamis, Agustus 13, 2026
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Surabaya
    • Jember
    • Blitar
    • Mojokerto
    • Kediri
    • Jakarta
    • Trenggalek
    • Malang
    • Jombang
    • Bojonegoro
    • Lamongan
  • Pemerintahan
  • Politik
No Result
View All Result
koranpilar
No Result
View All Result
Home Daerah Surabaya

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK? Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).

by Redaksi
Kamis, 13 Agustus 2026, 17:21 WIB
A A
81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?  Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).

Ir. Bagus Budi Hermanto, MM.

Liputan : Gultom

Editor : Redaksi

Oleh: Ir. Bagus Budi Hermanto, MM.

Koranpilar.com. Surabaya – Ada sebuah ironi di tengah peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia.

Kita memiliki daerah dengan tambang melimpah, perkebunan luas, kawasan industri, pelabuhan, pariwisata, pertanian, perikanan dan berbagai sumber daya ekonomi. Namun pada saat yang sama, sejumlah pemerintah daerah menghadapi persoalan serius dalam menyediakan ruang fiskal untuk memenuhi kewajiban belanja, termasuk penggajian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Pertanyaannya sederhana, tetapi mengandung persoalan besar:

Mengapa daerah yang kaya potensi ekonomi masih bisa mengalami keterbatasan kapasitas fiskal?. Dan pertanyaan berikutnya bahkan lebih penting:

Apakah solusi atas persoalan tersebut cukup dengan melakukan efisiensi anggaran?

Menurut saya, jawabannya: tidak.

Efisiensi memang wajib. Tetapi efisiensi hanya berbicara tentang bagaimana mengelola uang yang sudah ada.

Sementara persoalan fiskal daerah membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar:

Bagaimana menciptakan sumber daya ekonomi dan fiskal baru?

Di sinilah kita perlu mengubah paradigma pembangunan daerah.

PPPK: Persoalan Kepegawaian yang Berubah Menjadi Persoalan Fiskal

Baca Juga :  Asep Heri Mohon Pamit Kepada Masyarakat Jawa Timur

Penataan tenaga non-ASN melalui PPPK merupakan bagian dari reformasi manajemen aparatur negara.

Kementerian PANRB menjelaskan bahwa PPPK Paruh Waktu merupakan skema yang memberikan ruang bagi instansi pemerintah pusat maupun daerah yang memiliki keterbatasan belanja pegawai, sekaligus menjadi jalan tengah dalam penataan non-ASN. Pengusulan kebutuhan PPPK Paruh Waktu mempertimbangkan kebutuhan organisasi dan ketersediaan anggaran instansi.

(Kemenpan RB⁠) Secara sosial, kebijakan tersebut memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat.

Di balik angka-angka belanja pegawai terdapat guru, tenaga kesehatan dan tenaga teknis yang selama ini menjalankan pelayanan publik.

Karena itu, PPPK tidak semestinya diposisikan sebagai lawan pembangunan.

PPPK adalah bagian dari pembangunan.

Guru adalah pembangunan.

Tenaga kesehatan adalah pembangunan.

Tenaga teknis pelayanan publik juga pembangunan.

Namun persoalan fiskalnya tetap nyata.

Ketika belanja pegawai meningkat, ruang fiskal untuk pembangunan dapat menyempit jika pertumbuhan pendapatan daerah tidak mampu mengimbanginya.

Di sinilah muncul dilema:

Bagaimana menjamin hak dan keberlanjutan penghasilan aparatur tanpa mengorbankan investasi pembangunan daerah?

Jawabannya tidak cukup dengan memilih salah satu.

Baca Juga :  BOROK NKRI : KEBOBROKAN MULTISEKTOR DAN DIAGNOSIS PENYAKIT BANGSA (1)

Kita membutuhkan kapasitas fiskal yang lebih besar.

Jangan Hanya Bertanya: Dari Mana Uangnya?

Dalam menghadapi tekanan fiskal, respons yang paling mudah biasanya adalah:

hemat anggaran.

Perjalanan dinas dikurangi.

Kegiatan seremonial dipangkas.

Belanja barang dan jasa diefisienkan.

Program yang dianggap kurang prioritas ditunda.

Semua itu benar.

Tetapi ada batasnya.

Sebuah rumah tangga tidak mungkin menyelesaikan masalah keuangan selamanya hanya dengan mengurangi pengeluaran. Pada titik tertentu, pendapatan harus meningkat.

Demikian pula pemerintah daerah.

Karena itu, pertanyaan fiskal seharusnya tidak berhenti:

“Dari mana uang untuk membayar PPPK?”

Tetapi harus berubah menjadi:

“Bagaimana pemerintah daerah meningkatkan kapasitas ekonominya agar mampu membiayai PPPK sekaligus tetap membangun?”

Perubahan pertanyaan ini sangat fundamental.

Dari cost cutting menuju capacity building.

Dari expenditure management menuju economic growth management.

Angka APBD Mengungkap Sebuah Persoalan Struktural

Data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan memberikan gambaran menarik.

Dalam APBD 2026, berdasarkan data 546 pemerintah daerah yang diterima SIKD per 28 Juli 2026, pendapatan daerah secara nasional dianggarkan sekitar Rp1.189,72 triliun.

Baca Juga :  ERI CAHYADI NGEDABRUS JILID 2 !!! "MENAGIH JANJI WALIKOTA SURABAYA"

Dari jumlah tersebut, PAD dianggarkan sekitar Rp429,29 triliun.

Sementara transfer pemerintah pusat mencapai sekitar Rp700,69 triliun. (DJPK Kemenkeu⁠).

. Bersambung  ke… Angka tersebut tidak berarti transfer pusat adalah sesuatu yang buruk………..

ShareSendTweet
Previous Post

Tri Hariadi Resmi Dilantik Jadi Sekda Tulungagung, Siap Perkuat Kolaborasi dan Tata Kelola Pemerintahan

Related Posts

Gubernur Khofifah Lantik Enam Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Pemprov Jatim: Optimalkan Digitalisasi untuk Pelayanan Publik Yang Makin Akuntabel, Efektif, Transparan dan Profesional
Surabaya

Gubernur Khofifah Lantik Enam Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Pemprov Jatim: Optimalkan Digitalisasi untuk Pelayanan Publik Yang Makin Akuntabel, Efektif, Transparan dan Profesional

Kamis, 16 Juli 2026, 20:53 WIB
INDONESIA 2030 : BUGAR ATAU BUBAR?  Mengembalikan Pancasila sebagai Kompas Kebijakan Negara
Surabaya

INDONESIA 2030 : BUGAR ATAU BUBAR? Mengembalikan Pancasila sebagai Kompas Kebijakan Negara

Minggu, 5 Juli 2026, 14:37 WIB
Rapat Klarifikasi ” Eri Cahyadi Ngedabrus ” Oleh DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Berlangsung Panas Dan Ricuh..!!
Surabaya

Rapat Klarifikasi ” Eri Cahyadi Ngedabrus ” Oleh DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya Berlangsung Panas Dan Ricuh..!!

Kamis, 2 Juli 2026, 14:27 WIB
DPC PDI PERJUANGAN KOTA SURABAYA, MEMANGGIL SAUDARA WARDOYO SH. TERKAIT PEMBERITAAN DI MEDIA DENGAN JUDUL “ERI CAHYADI NGEDABRUS”
Surabaya

Rapat Klarifikasi ” Eri Cahyadi Ngedabrus ” oleh DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya berlangsung panas dan ricuh..!!

Kamis, 2 Juli 2026, 06:07 WIB
DPC PDI PERJUANGAN KOTA SURABAYA, MEMANGGIL SAUDARA WARDOYO SH. TERKAIT PEMBERITAAN DI MEDIA DENGAN JUDUL “ERI CAHYADI NGEDABRUS”
Beranda

DPC PDI PERJUANGAN KOTA SURABAYA, MEMANGGIL SAUDARA WARDOYO SH. TERKAIT PEMBERITAAN DI MEDIA DENGAN JUDUL “ERI CAHYADI NGEDABRUS”

Senin, 29 Juni 2026, 16:38 WIB
Eri Cahyadi ‘Ngedabrus’? Jangan Biarkan Nama Partai Tercoreng!
Surabaya

ERI CAHYADI NGEDABRUS JILID 2 !!! “MENAGIH JANJI WALIKOTA SURABAYA”

Kamis, 25 Juni 2026, 19:22 WIB

Recommended

Kamis, 25 Desember 2025, 11:48 WIB
Marsono Resmi Dilantik sebagai Ketua DPRD Tulungagung, Prioritaskan Pembahasan APBD 2025

Marsono Resmi Dilantik sebagai Ketua DPRD Tulungagung, Prioritaskan Pembahasan APBD 2025

Selasa, 5 November 2024, 19:53 WIB

Don't miss it

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK?  Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).
Surabaya

81 Tahun Merdeka, Mengapa Daerah Masih Kesulitan Membayar PPPK? Jangan Hanya Menghemat APBD, Saatnya Kepala Daerah Mengubah Kekayaan Menjadi Kekuatan Fiskal (Episode Pertama).

Kamis, 13 Agustus 2026, 17:21 WIB
Tri Hariadi Resmi Dilantik Jadi Sekda Tulungagung, Siap Perkuat Kolaborasi dan Tata Kelola Pemerintahan
Tulungagung

Tri Hariadi Resmi Dilantik Jadi Sekda Tulungagung, Siap Perkuat Kolaborasi dan Tata Kelola Pemerintahan

Rabu, 12 Agustus 2026, 19:45 WIB
KETIKA RAKYAT HANYA MEMIKIRKAN HARI INI,  Sebuah Negara Tidak Boleh Membuat Rakyatnya Terlalu Sibuk Bertahan Hidup Hingga Lupa Merencanakan Masa Depan
Beranda

KETIKA RAKYAT HANYA MEMIKIRKAN HARI INI, Sebuah Negara Tidak Boleh Membuat Rakyatnya Terlalu Sibuk Bertahan Hidup Hingga Lupa Merencanakan Masa Depan

Selasa, 11 Agustus 2026, 17:14 WIB
Perkuat Rantai Pasok Kopi Lokal Mojokerto, Mahasiswa KKN Dampingi Proses Edukasi Pembibitan dan Sortir Biji Kopi
Beranda

Perkuat Rantai Pasok Kopi Lokal Mojokerto, Mahasiswa KKN Dampingi Proses Edukasi Pembibitan dan Sortir Biji Kopi

Selasa, 11 Agustus 2026, 06:48 WIB
Gelaran Sound Horeg Kedungmaling Sooko Mojokerto Sedot Ribuan Penonton
Mojokerto

Gandeng Influencer Lokal, Mahasiswa KKN STIE Al-Anwar Belajar Bareng Warga Soal Packaging dan Pemasaran

Senin, 10 Agustus 2026, 06:57 WIB
Gelaran Sound Horeg Kedungmaling Sooko Mojokerto Sedot Ribuan Penonton
Mojokerto

Gelaran Sound Horeg Kedungmaling Sooko Mojokerto Sedot Ribuan Penonton

Senin, 10 Agustus 2026, 06:51 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kode Etik Jurnalistik

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Landing Page
  • Buy JNews
  • Support Forum
  • Pre-sale Question
  • Contact Us

© 2026 Koranpilar - All Rights Reserved