foto : pendirian posko pemantau jalan dengan swadaya masyarakat
Liputan : Latif. Editor : Redaksi
Koran Pilar. Mojokerto – Jawa Timur. Kondisi infrastruktur di jalan Mojolegi, Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging, kian memprihatinkan. Gorong-gorong penyambung akses vital antara Desa Sekargadung menuju Desa Curahmojo sekaligus jalur alternatif utama dari Kecamatan Pungging menuju Kecamatan Trawas dilaporkan ambles sejak sebulan terakhir.
Hingga kini, lubang menganga di badan jalan tersebut belum mendapatkan penanganan serius dari pihak terkait.
Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan tersebut memakan hampir separuh badan jalan. Akibatnya, akses yang biasanya ramai dilalui kendaraan menuju objek wisata Pertirtaan Jolotundo kini menyempit drastis.
Kendaraan roda empat yang melintas terpaksa harus bergantian dan ekstra hati-hati agar tidak terperosok ke dalam lubang yang kian hari kian mendalam.
Guna mengantisipasi terjadinya kecelakaan, warga setempat secara swadaya mendirikan posko pengamanan di sekitar titik kerusakan.
Kehadiran posko ini bertujuan untuk mengatur lalu lintas yang kini hanya menyisakan satu lajur sempit.
Warga berjaga secara bergantian, terutama pada jam-jam sibuk dan malam hari, mengingat minimnya penerangan di area tersebut yang bisa membahayakan pengendara asing.
Kekhawatiran mendalam dirasakan oleh masyarakat setempat, salah satunya Masjan. Pria paruh baya warga Mojolegi ini mengakui bahwa warga merasa waswas setiap kali kendaraan berat melintas.
Menurutnya, kondisi aspal di sekitar titik ambles sudah mulai retak-retak dan menunjukkan tanda-tanda akan terjadinya longsor susulan yang lebih besar jika terus dibiarkan.
“Kami sangat takut kalau nanti ini ambles total atau ambrol semua. Kalau sampai itu terjadi, jangankan mobil, motor pun tidak akan bisa lewat. Padahal ini jalan utama warga kalau mau ke desa sebelah atau ke pasar,” ujar Masjan saat ditemui di lokasi, Rabu (11/2).
Masjan menambahkan bahwa hingga memasuki satu bulan sejak kerusakan pertama muncul, belum ada tanda-tanda alat berat atau material bangunan yang diturunkan ke lokasi.
Warga sangat menyayangkan kelambatan respons ini, mengingat jalan ini merupakan nadi ekonomi dan jalur pariwisata yang cukup padat.
Jika jalan ini putus, warga harus memutar jauh melintasi desa lain dengan jarak tempuh yang berkali-kali lipat.
Warga berharap pemerintah daerah atau dinas terkait segera turun tangan melakukan perbaikan permanen sebelum struktur jalan benar-benar runtuh total.
Saat ini, kekuatan jalan hanya bergantung pada pengamanan ala kadarnya dari warga, dengn disangga kayu.
Mereka menegaskan bahwa tindakan darurat sangat diperlukan agar mobilitas masyarakat antara Kecamatan Pungging, Trawas dan Ngoro yang biasa menggunakan akses tersebut tidak terganggu.









