Beranda Peristiwa

Festival Balon Tulungagung, Upaya Antisipasi Bahaya Balon Udara Liar

151
Polres Tulungagung menggelar Festival Balon Udara Tulungagung pada Minggu (8/6) di Lapangan Desa Notorejo, Kecamatan Gondang.

koranpilar.com, Tulungagung. Kapolres Tulungagung, AKBP Taat Resdi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya menekan kebiasaan masyarakat menerbangkan balon udara liar yang membahayakan.

Menurutnya, balon udara yang dilepaskan tanpa kendali sering menimbulkan dampak negatif, seperti kerusakan rumah warga dan putusnya aliran listrik. Bahkan, tak jarang balon tersebut dilengkapi dengan petasan berukuran besar yang bisa meledak di atas permukiman, menimbulkan korban luka maupun kerusakan benda berharga.

“Dengan adanya festival ini, kebiasaan menerbangkan balon bisa disalurkan secara aman dan terkendali,” ujar Kapolres Taat.

Dalam festival ini, setiap balon diberi tali penahan agar tidak terbang bebas. Kegiatan ini juga mengadopsi konsep dari Festival Balon di Wonosobo, Jawa Tengah.

“Pesertanya berasal dari Tulungagung sebanyak 18 tim, dari Trenggalek 1 tim, dan dari Wonosobo 20 tim,” jelasnya.

Festival ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM. Dari target awal 30 UMKM, jumlah peserta UMKM membengkak menjadi 250.

Selain masyarakat umum, festival ini juga menarik minat para konten kreator dari berbagai daerah.

Baca Juga  Peristiwa Kebakaran di Barat Perempatan Tamanan

“Penonton yang awalnya diperkirakan hanya 1.000 orang, ternyata mencapai sekitar 5.000 orang,” tambahnya.

Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, turut mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Festival Balon bisa menjadi agenda tahunan Kabupaten Tulungagung.

“Semoga bisa digelar rutin setiap tahun sebagai bagian dari agenda wisata daerah,” tuturnya.

Sayangnya, lonjakan jumlah penonton tidak dibarengi dengan kesiapan pengaturan lalu lintas menuju dan dari lokasi acara. Banyak warga mengeluh harus berdesakan saat keluar-masuk area festival. Beberapa bahkan harus melewati saluran irigasi untuk bisa keluar dari lokasi.

Astutik, salah satu warga, menuturkan bahwa jalur masuk dan keluar lokasi bercampur, menyebabkan pengunjung harus berdesakan.

“Seharusnya dibuat jalur masuk dan jalur keluar yang terpisah,” ujarnya.

Kendaraan yang diparkir di tepi jalan juga membuat akses menuju lokasi menjadi sempit. Meski begitu, ia tetap merasa terhibur dengan festival ini.

“Semoga bisa menjadi agenda tahunan dan ke depan semakin tertata,” pungkasnya.