Mojokerto – Musim kemarau panjang tahun ini membuat ribuan warga di Kabupaten Mojokerto kehilangan akses terhadap air bersih.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Mojokerto, tercatat 6.469 jiwa dari 2.292 kepala keluarga di tiga desa terdampak langsung kekeringan.
Daerah yang paling parah adalah Desa Kunjorowesi (1.912 jiwa), Desa Manduro Manggung Gajah (2.565 jiwa) di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung (1.992 jiwa) di Kecamatan Trawas.
Selama ini warga mengandalkan air sumber alami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya warga Desa Duyung Kecamatan Trawas. Namun, saat kemarau, debit air dari sumber pegunungan turun drastis hingga tak mampu lagi mencukupi kebutuhan warga.
“Biasanya cukup mengambil air dari sumber, tapi sekarang kering. Jadi warga harus antre menunggu droping air bersih dari BPBD,” ungkap Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Mojokerto, Abdul Khakim.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Mojokerto mulai mendistribusikan air bersih sejak 29 Juli hingga 1 September 2025.
Bantuan ini menggunakan anggaran APBD 2025 sebesar Rp135 juta untuk menyediakan 300 tangki air, masing-masing dengan harga Rp150 ribu dari PDAM.
Khakim mengatakan droping air difokuskan ke titik-titik penampungan desa agar warga bisa lebih mudah mengambil air.
“Ada tiga wilayah yang rawan kekeringan, yakni Desa Kunjorowesi, Manduro, dan Duyung. Warga sangat bergantung pada sumber alam, tapi saat ini tidak mencukupi. Jadi droping air menjadi solusi darurat,” jelasnya.
Kekeringan ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah dataran tinggi seperti Trawas yang biasanya kaya sumber air, namun tetap bisa terdampak saat musim kemarau ekstrem.
BPBD berharap droping air dapat memenuhi kebutuhan warga hingga musim penghujan datang kembali.









