koranpilar.com, Tulungagung. Pemerintah Kabupaten Tulungagung mengusulkan 168 hektar sawah untuk mendapat campur tangan pemerintah pusat.
Campur tangan yang dimaksud adalah memperoleh bantuan berupa venih, pupuk dan alsintan (alat dan mesin pertanian).
Hal itu diungkapkan oleh Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, Rabu (15/4) saat menghadiri budaya Labuh dan panen raya di Desa Ngrance Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung.
Gatut sunu jelaskan sawah yang diusulkan memperoleh bantuan adalah yang hanya panen sekali dalam setahun.
“Harapanua dengan bantuan pemerintah sawah tersebut bisa panen 2 sampai 3 kali dalam setahun,” jelasnya.
Sawah yang panen sekali rerata merupakan sawah yang mengandalkan air hujan untuk mengairi sawahnya, atau sawah tadah hujan. Di musim kemarau sawah tersebut tak bisa ditanami padi, dan difungsikan untuk komoditas tanaman lainya.
“Nanti akan kita buat sumur bor untuk pengairanya,” kata Gatut Sunu.
Dirinya melanjutkan, Tulungagung merupakan salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Tiap tahun panen padi selalu alami surplus. Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, surplus beras Kabupaten Tulungagung alami penurunan.
Penurunan surplus padi disebabkan adanya perubahan fungsi lahan dan komoditas tanam.
“Di Desa Ngrance, 1.400 meter persegi (100 ru) bisa menghasilkan 1,2 ton padi,” ujarnya.
jika dikonversi, satu hektar sawah bisa menghasilkan 7,74 ton padi.
Pihaknya memastikan distribusi pupuk bersubsidi tepat sasaran pada petani. Sebab kelancaran distribusi pupuk bersubsidi merupakan salah satu faktor optimalisasi hasil panen.
“Saya akan menindak tegas siapapun yang menyalahgunakan pupuk bersubsidi,” katanya tegas
Abdul Gani, petani dari Desa Ngrance menuturkan dengan lahan seluas 200 ru (2800 meter persegi) dirinya bisa mengahasilkan rerata 1 ton padi.









