koranpilar.com, Tulungagung. Produksi padi di Kabupaten Tulungagung mengalami tren fluktuatif dalam lima tahun terakhir. Meski demikian, stok beras dinilai masih aman untuk mencukupi kebutuhan masyarakat setempat.
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo menyampaikan hal itu dalam panen raya serentak di Desa Sanan, Kecamatan Pakel, Senin (7/4). Ia menyebut wilayah Pakel merupakan salah satu lumbung padi utama di kabupaten tersebut.
“Semoga tahun depan Tulungagung bisa menjadi penghasil padi terbaik,” ujar Gatut.
Berdasarkan data, produksi padi Tulungagung pada 2020 mencapai 291.568 ton dengan surplus beras sebesar 203.046 ton. Namun angka tersebut menurun pada 2023 menjadi 285.439 ton dengan surplus 75.067 ton. Hingga Maret 2025, produksi padi tercatat 58.096 ton dan surplus beras 11.037 ton.
Gatut menyebut penurunan surplus ini akan ditangani melalui beberapa langkah strategis. Salah satunya membangun sumur irigasi di lahan sawah tadah hujan agar dapat ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
“Kami sudah melakukan pendataan sawah tadah hujan untuk program pembangunan sumur,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya pengolahan lahan yang optimal, pemilihan benih unggul, pemenuhan kebutuhan pupuk, serta penanganan pascapanen.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Suyanto menjelaskan penurunan surplus juga disebabkan oleh alih fungsi lahan. Banyak petani memilih menanam komoditas lain atau mengalihfungsikan lahannya untuk perikanan, peternakan, dan perumahan.
“Kami terus lakukan sosialisasi agar petani tetap menanam padi,” ujarnya.
Pada panen raya kali ini, sawah di Kecamatan Pakel menghasilkan rata-rata 10,8 ton gabah per hektar. Adapun konsumsi beras penduduk Tulungagung berada di angka 81,23 kg per orang per tahun, dengan jumlah penduduk mencapai 1.115.633 jiwa.
Pemkab Tulungagung menegaskan komitmennya menjaga ketersediaan beras dan mendukung produktivitas pertanian demi kesejahteraan petani dan masyarakat.









