Beranda Peristiwa

Tradisi Ayak Abu Jelang Imlek di Tulungagung: Penyucian Spiritual dan Harapan Baru

217
Tradisi ayak abu

koranpilar.com, Tulungagung – Menjelang perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa di Tulungagung melestarikan tradisi ayak abu, sebuah ritual penyucian diri dan lingkungan yang sarat makna spiritual. Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan energi negatif yang tertinggal sepanjang tahun sebelumnya, sekaligus menyambut keberuntungan di tahun baru.

Menurut Tjio Jing Jing, salah satu tokoh di Bioma Tempat Ibadah Tri Dharma Tjoe Tik Kiong Tulungagung, ayak abu dilakukan setelah dewa-dewi naik ke nirwana. “Tujuannya bersih-bersih. Kalau dewa sudah naik ke nirwana, kita baru bersih-bersih,” jelasnya.

Ritual ini melibatkan pembersihan abu dupa dan lilin dari 12 altar yang ada. Abu halus ditata kembali ke dalam wadah dupa, sementara sisa-sisa batang dupa dibuang. Menariknya, abu hasil ritual ini sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional, namun penggunaannya memerlukan izin dari dewa. “Harus izin dewa dulu. Kalau dewa mengizinkan dan yang meminta yakin, abu tersebut bisa digunakan sebagai obat,” tambah Jing Jing.

Selain ayak abu, tradisi ini juga meliputi pembersihan rumah, altar, dan patung dewa-dewi. Kegiatan ini sering disertai doa bersama, pemasangan dekorasi merah, dan pemberian angpao sebagai simbol kebahagiaan dan keberkahan.

Baca Juga  Malam Shalawatan di Pendopo, Bupati Mojokerto Singgung Framing Televisi Nasional Soal Santri

“Tradisi ayak abu sudah menjadi agenda tahunan menjelang Imlek,” ungkap Jing Jing. Ia menegaskan bahwa ritual ini tidak hanya merupakan kegiatan fisik, tetapi juga momen spiritual untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, leluhur, dan lingkungan.

Dengan melestarikan tradisi ayak abu, masyarakat Tionghoa di Tulungagung berharap perayaan Imlek membawa kedamaian, kemakmuran, dan keberuntungan bagi semua.