Jayapura – Pandemi COVID-19 telah menjadi gempa besar yang mengguncang fondasi industri pariwisata. Kini, setelah pembatasan dilonggarkan, biro perjalanan wisata (BPW) tidak lagi berada di masa pemulihan, melainkan fase seleksi alam di mana keberanian untuk bertransformasi menjadi kunci utama untuk bertahan.
Sebuah tinjauan mendalam dari Ilham Arif Khalifathullah, mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, menyoroti bagaimana pola pikir wisatawan telah bergeser drastis. Konsumen kini jauh lebih selektif, memprioritaskan keamanan, kebersihan, dan fleksibilitas di atas segalanya.
Perubahan terbesar adalah pada nilai jual. BPW tidak bisa lagi sekadar mengandalkan “paket murah”. Seperti yang diungkapkan oleh Ilham Arif Khalifathullah, tantangan saat ini adalah meyakinkan wisatawan bahwa perjalanan yang ditawarkan adalah aman, terencana, dan dilengkapi dengan skenario cadangan jika terjadi perubahan mendadak.
Fleksibilitas dalam reschedule, refund, atau penyesuaian rencana perjalanan telah menjadi mata uang baru yang sangat berharga.
Selain itu, ketidakpastian regulasi perjalanan menuntut BPW untuk selalu lincah, transparan, dan jujur dalam mengomunikasikan informasi kepada pelanggan. Sikap transparan inilah yang justru menumbuhkan kepercayaan, sebuah aset yang tidak dapat dibeli.
Persaingan dengan platform pemesanan online (OTA) dan tren perjalanan mandiri menuntut BPW harus mendefinisikan ulang peran mereka.
“Biro perjalanan tidak bisa lagi hanya bertindak sebagai ‘penjual tiket dan voucher hotel’,” kata Inggumi Rumawak, S.ST.Par., M.Tr.Par, Ketua Program Studi Usaha Perjalanan Wisata, Akpar 45 Jayapura.
“Mereka harus bertransformasi menjadi konsultan perjalanan yang menjual pengalaman, bukan sekadar transaksi,” tambahnya.
Sentuhan manusiawi pendampingan dari perencanaan hingga akhir perjalanan, rekomendasi yang personal, dan kemampuan mengatasi masalah di lapangan adalah keunggulan mutlak yang tidak dapat ditiru oleh aplikasi.
Di balik tantangan, terbentang peluang yang signifikan, terutama di sektor wisata domestik. Banyak destinasi lokal, desa wisata, dan UMKM yang menyimpan potensi alam dan budaya otentik namun belum terjamah pasar luas.
BPW dapat menjadi jembatan antara wisatawan modern dan kekayaan lokal ini.
Selain itu, tren wisata yang personal dan berkelanjutan semakin kuat. Wisatawan hari ini mencari cerita, interaksi dengan warga lokal, dan ingin memastikan perjalanan mereka ramah lingkungan serta berkontribusi pada ekonomi masyarakat. Biro yang mampu merancang pengalaman bermakna ini akan memiliki posisi yang langgeng.
Nur Mahmudah El Madja, S.Sos. M.Med.Kom, Dosen Pengampu Mata Kuliah Tata Pergaulan dan Etika, menekankan pentingnya penggabungan teknologi dengan etika layanan.
“Menggabungkan sentuhan digital dengan layanan manusia yang hangat adalah kombinasi kuat. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan ancaman,” terangnya.
Intinya, biro perjalanan yang akan memenangkan era pasca pandemi adalah mereka yang berani berubah. Kualitas layanan, fleksibilitas, dan tanggung jawab sosial-lingkungan adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan dan pasar yang berkelanjutan.









