Liputan : Tim // Editor : Redaksi
Koranpilar.com. Surabaya – Itu bukan klarifikasi tapi mengadili, dan memposisikan saudara Wardoyo SH sebagai pesakitan, saya sudah dengar dan melihat dari rekaman yang ada di Flash disk, Pihak pengadilnya yang bertindak sebagai hakim adalah saudara Syaifudin Zuhri, Anas Karno, Aliyuddin, dan Eko Wahyono.
Kalau klarifikasi bukan begitu namanya, itu kan karena ada sebab dan ada akibat. Harusnya yang di adili itu adalah Eri Cahyadi bukan Wardoyo SH, ini kok malah kebalik. Bahkan Seorang Pewarta berita salah satu Media ikut di undang di mintai klarifikasi, itu kan sudah salah kaprah, emang DPC PDI Perjuangan surabaya itu Dewan Pers, tutur Agus.
Sebagai salah satu Pengurus DPD PDI Perjuangan jawa timur yang merangkap Walikota Surabaya , Eri Cahyadi boleh dikatakan melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada para Kader partai, dengan melakukan Wanprestasi atau ingkar janji, mudah janji tapi tidak pernah terbukti, itu yang merusak dan mencoreng nama partai, bukan Wardoyo SH yang balik di tuduh merusak nama partai, itu Syaifudin Zuhri dan Anas Karno kok kebalik-balik, apakah mereka semua itu, sang pengadil ini bagian dari corong dan kroninya Eri Cahyadi, tegas Agus.

Itu kan berawal dari pengaduan saudara Solekan dan Happy serta cibiran beberapa PAC dan Ranting PDI Perjuangan surabaya, yang kebetulan sudah lama sekali tidak di respon terkait janjinya Eri Cahyadi, saat rapat tertutup di Gedung Mahameru Jalan Jemursari Surabaya.
Perlu di ketahui terjadinya Rapat tertutup di Gedung Mahameru tersebut lantaran Eri Cahyadi pernah di tegur oleh Wakabid DPP PDI Perjuangan bapak Komarudin Watubun sekitar Bulan Mei 2025, karena Eri Cahyadi di anggap tidak berkonstribusi terhadap partai, sehingga suara partai jadi menurun.
Pasca di tegur tersebut, dengan gagahnya Eri Cahyadi bikin acara sendiri dengan mendatangkan para KSB PAC dan Ketua ranting se surabaya, salah satunya ya menjanjikan yang di persoalkan dalam agenda klarifikasi DPC kemarin, mungkin Eri Cahyadi ingin nunjukan pada DPP Bapak Komarudin Watubun selaku Wakabid Kehormatan Partai, di Rapat Mahameru itu Eri Cahyadi berujar janji termasuk soal sepeda motor, dan berjanji membayar tagihan hutangnya Almarhum Adi Sutaryono pada pihak eksternal kurang lebih sebesar Rp 5 Milyar, tapi sayang janji tersebut hanya Ngedabrus saja, janji tersebut itulah yang di tagih dan di persoalkan teman-teman sesama kader partai, tapi tidak pernah di respon oleh Eri Cahyadi.
Bahkan Pengurus DPC sendiri tidak ada niat menyelesaikan masalah tersebut, atau paling tidak menjembatani dengan Eri Cahyadi, bukan diam saja, kalau Kader atau anggota partai mulai bersuara, tugas pengurus Cabang itu harus cepat merespon, karena kedaulatan Partai itu ada di tangan anggota, bukan di pengurus, Bapak Komarudin Watubun saja selaku DPP aja dibohongi, apalagi sekelas PAC dan Ranting.
Kini persoalannya udah jadi konsumsi publik dan Pengurus DPC malah marah. Apa yang di lakukan teman-teman itu hanya menjalankan perintah Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan Prof DR Hajjah Megawati Soekarno Putri, dimana beliau pernah berpesan ” Hai para Kader, PAC, Ranting ” lapor ke ibu apabila ada elit partai yang ada di daerah itu melakukan penyimpangan, menciderai citra partai, baik sebagai pengurus maupun saat jadi petugas partai, apalagi yang punya niat mau jadi raja-raja kecil di daerah, habis Eri Cahyadi terus di gantikan istrinya yang bernama Rini gitukah?.
Saya pikir apa yang dilakukan dan di suarakan oleh teman-teman para kader tersebut, bila perlu beritakan sampai berjilid-jilid sampai Eri Cahyadi merealisasikan janjinya. Mereka melakukan itu karena tersumbatnya saluran Aspirasi dan Komunikasi untuk menyampaikannya.
Kalau lewat surat pasti tidak nyampai ke Ibu Ketua Umum, karena pasti kepotong di tengah jalan, ya jalan satu-satunya mungkin itu yang mereka lakukan lewat pemberitaan, dengan berharap Ibu Mega bisa membaca atau melihatnya prilaku Petugas Partai di Surabaya.
Bukan di respon dengan cara yang Arogan seperti apa yang dilakukan oleh Syaifudin Zuhri Sekretaris Cabang yang juga merangkap sebagai Ketua DPRD Surabaya, itu tidak elok sampai merampas Spanduk lewat orangnya, lalu teriak-teriak periksa semua itu HP, jangan ada yang boleh keluar, kalau vidio dan Foto Spanduk tulisan “Hai Eri Cahyadi tunaikan janjimu, ojok Ngedabrus ae ” itu belum hapus.
Saya kok jadi meragukan leadershipnya Syaifudin Zuhri, dia itu pemimpin apa corongnya Eri Cahyadi? kok kayak orang kesurupan gitu teriak-teriaknya, ini partai butuh pemimpin yang santun dan elegan, butuh ketenangan dan kedewasaan dalam menyelesaikan masalah, bukan gaya preman, masak dengan Spanduk aja takut, tegas Agus patminto.
Kami diam itu bukan berarti kami tidur, 20 tahun lebih kami para Promeg ini mengamati perjalanan Partai, dan cikal bakal PDI Perjuangan jadi partai itu yang mendirikan para Promeg se Indonesia, dan mendaulat Ibu Prof DR Hajjah Megawati Soekarno Putri untuk menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan logonya masih Banteng segi lima, ini para pengurus dan petugas partai yang ada di legislatif dan eksekutif tinggal menikmati aja kok prilakunya kayak paling yang punya partai sendiri, tegas Agus agak gemas.
Saya mendukung apa yang dilakukan teman-teman para kader partai untuk bersuara lantang sebagai chek and balance terhadap pengurus maupun petugas partai, apalagi yang duduk di legislatif dan eksekutif, kalau benar ya didukung, kalau salah ya dikritik demi eksistensi dan nama baik partai.
Jangan tabu atau takut terhadap kritik karena partai ini besar karena kritik, kalau memang faktanya Eri Cahyadi Ngedabrus, ya harus diingatkan.
Yang jelas bagi saya Eri Cahyadi itu biarpun jadi Walikota tidak membawa dampak apa-apa ke PDI Perjuangan surabaya, artinya tidak berkontribusi sama sekali ke partai, Pileg kursi menurun dari 15 kursi jadi cuma 11 kursi, Pilpres kalah, di TPS Eri Cahyadi nyoblos itu loh. Ganjar-Mahfud aja kalah, apa gak kebangetan itu, padahal dia seorang Tokoh Bapaknya Arek-arek suroboyo katanya?.
Apalagi menjalankan 5 Mantap Partai, Mantap Idiologi, Mantap Organisasi, Mantap Kader, Mantap Program dan Mantap Sumber Daya, dia tidak jalankan itu semua saat jadi Petugas Partai di eksekutif, kalau Eri Cahyadi jalankan 5 Mantap Partai itu diatas, Prilakunya gak akan Sen kiri Belok kanan, dan sebaliknya seperti Jokowi. Tutur Agus.











