koranpilar.com, Tulungagung. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung kembali mengaktifkan Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu. Namun, warga sekitar langsung waspada dan siap turun ke jalan jika instalasi ini kembali menebarkan bau tak sedap.
Mulyono, salah satu perwakilan warga, mengatakan bahwa dulu saat IPLT masih beroperasi, bau menyengatnya benar-benar bikin warga tersiksa. Aktivitas sehari-hari terganggu, terutama di pagi hari ketika aroma tak sedap menyebar ke rumah-rumah.
“Dulu, tiap subuh, bau IPLT nyebar ke mana-mana. Endapan limbahnya belum terurai sempurna, jadinya kami yang kena dampaknya. Makanya, kalau sekarang dioperasikan lagi dan masih bau, ya jelas kami bakal protes,” tegas Mulyono.
Untuk memastikan IPLT ini benar-benar aman, warga berinisiatif mengambil sampel air hasil olahannya buat diuji di Sucofindo. Biaya tes ini dikumpulkan dari iuran warga sendiri.
“Kami cuma mau tahu kualitas airnya kayak gimana. Jangan sampai IPLT ini malah merugikan warga,” tambahnya.
Mulyono menegaskan bahwa kalau setelah beroperasi bau masih tercium, warga nggak akan tinggal diam. Mereka siap demo sesuai prosedur yang berlaku.
“Kami akan turun ke jalan kalau ternyata IPLT ini masih mengganggu. Kami juga butuh kejelasan dari pemkab, sebenarnya IPLT ini manfaatnya buat kami apa?” ujarnya.
Menanggapi kekhawatiran warga, Sekretaris Daerah (Sekda) Tulungagung, Tri Hariadi, memastikan bahwa pemkab akan terus memperbaiki sistem pengolahan agar IPLT lebih ramah lingkungan dan nggak mengganggu warga.
“Kami terbuka untuk masukan dan kritik. Kalau ada masalah, ayo cari solusi bareng. IPLT ini akan terus dipantau supaya nggak menimbulkan gangguan,” katanya.
Sebagai langkah perbaikan, pemkab berencana menanam lebih banyak pohon, terutama bambu, yang bisa menyerap CO2 dan mengurangi bau.
“Soal warga yang mau uji sampel air, kami justru terbantu. Itu bisa jadi bahan evaluasi juga buat kami. Ke depan, kami akan tambah lebih banyak pohon bambu di sekitar IPLT,” tutupnya.









