koranpilar.com, Tulungagung. Penyakit mulut dan kuku (PMK) telah menyerang puluhan ternak di Kabupaten Tulungagung, bahkan menyebabkan beberapa ternak mati. Untuk menekan penyebaran penyakit ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah mengambil langkah-langkah preventif, termasuk menutup sementara pasar-pasar hewan hingga 25 Januari.
Ketua Komisi B DPRD Tulungagung, Widodo Prasetyo, mengusulkan beberapa solusi, seperti membatasi lalu lintas hewan ternak antarwilayah. Namun, ia mengakui bahwa langkah ini tidak mudah diterapkan karena banyaknya jalur alternatif yang bisa digunakan oleh pedagang.
“Langkah pembatasan arus ternak sangat sulit dilakukan secara menyeluruh, tetapi kami akan berupaya maksimal,” ujar Widodo, Kamis (9/1).
Selain itu, DPRD juga mengusulkan pengobatan untuk ternak yang terjangkit PMK. Namun, Widodo menyoroti tingginya biaya pengobatan sebagai kendala utama. “Kita akan koordinasikan dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk mencari solusi terbaik,” tambahnya.
Soal santunan untuk peternak yang kehilangan ternaknya, Widodo menyebut belum ada pembahasan lebih lanjut.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. Tutus Sumaryani, menjelaskan bahwa kemunculan PMK dipicu oleh kondisi lembap selama musim hujan. Meski demikian, ia memastikan bahwa kasus PMK di Tulungagung masih terkendali berkat kesadaran peternak dalam menjaga kebersihan kandang serta pelaporan dini.
“Kesadaran peternak sangat membantu. Vaksinasi yang kami lakukan secara menyeluruh juga menjadi faktor kunci dalam menekan angka penyebaran,” ungkap Tutus.
Ia menambahkan, sebagian besar ternak yang terjangkit PMK berasal dari luar wilayah Tulungagung, sehingga pengawasan lalu lintas ternak menjadi tantangan utama. Meski opsi menutup akses ternak dipertimbangkan, langkah ini dikhawatirkan mengganggu perekonomian sektor peternakan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dan peternak, Tulungagung optimis dapat menekan









