Mojokerto – Pemerintah Kabupaten Mojokerto mendorong penuh petani milenial untuk menjadi pelopor pengembangan usaha ternak kambing perah sebagai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan daerah.
Penekanan ini disampaikan langsung oleh Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa, dalam Workshop Manajemen Usaha Ternak Kambing Perah di Aula Hotel Arayanna, Trawas, Selasa (21/10).
Kegiatan yang diikuti Kelompok Tani “Mandiri Jaya Makmur” ini merupakan bagian dari Program Pertanian Komunal Bersama Milenial Tahun 2025 yang dirancang Dinas Pertanian setempat.
Bupati Albarraa, atau Gus Bupati, menyoroti ancaman regenerasi petani di Mojokerto, di mana mayoritas pelaku usaha pertanian berusia 40 hingga 70 tahun, sementara generasi muda cenderung memilih bekerja di sektor industri.
“Sebagian besar pelaku usaha pertanian berusia antara 40 hingga 70 tahun. Generasi mudanya lebih tertarik bekerja di sektor industri. Kondisi ini perlu diubah. Kita ingin membangkitkan pelaku-pelaku usaha pertanian dan peternakan dari kalangan milenial dan Gen Z,” tegasnya.
Gus Bupati menekankan bahwa bila ditekuni dengan manajemen yang baik, sektor peternakan memiliki potensi penghasilan yang jauh lebih besar. Kepala Dinas Pertanian, Ludfi Ariyono, menambahkan bahwa peluang bisnis susu kambing perah sangat terbuka lebar mengingat sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor, sementara produksi lokal baru mencapai 20 persen.
Dalam arahannya, Gus Bupati menekankan dua aspek krusial untuk kesuksesan usaha, yaitu manajemen peningkatan populasi dan digitalisasi pemasaran.
“Sekarang manajemennya bagaimana kambing sebanyak 33 ekor bisa jadi 330 ekor, dan jangan sampai 33 ekor jadi 3 ekor,” candanya, diikuti tawa peserta.
Lebih lanjut, ia mendesak petani milenial untuk memanfaatkan teknologi digital. “Di era digital ini kita harus memanfaatkan kemajuan teknologi, karena dengan digitalisasi, pemasaran akan jauh lebih mudah dan lebih luas,” jelasnya.
Selain pemasaran, fokus pada kualitas produk juga menjadi perhatian. Bupati mendorong peserta untuk mempelajari cara menghilangkan bau khas pada susu kambing agar produk dapat bersaing di pasar yang sadar gizi dan kesehatan. Ia berharap akan muncul produk olahan bernilai tambah, seperti yogurt, sabun susu kambing, hingga wisata edukasi peternakan, dengan branding “Made in Mojokerto”.
Kegiatan workshop ini, yang menghadirkan narasumber dari Balai Besar Pelatihan Peternakan Kementerian Pertanian Batu, diharapkan dapat melahirkan pelopor peternak yang mandiri, adaptif, dan berdaya saing untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Mojokerto.









